Thursday, April 2, 2020

Tanggapi Dukungan HMI Terhadap Omnibus Law, Jurnalis LPM Progress Diserang


Kami LPM Paradigma Politeknik Negeri Batam dengan ini mengecam tindakan pengeroyokan yang diterima oleh anggota Pers LPM Progress dalam tulisan opininya dan meminta kasus ini diusut sampai tuntas.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, jagat maya juga dihebohkan dengan tindakan anarkis dari kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Persiapan FTMIPA Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) pada Minggu (22/03/2020) yang melakukan pengeroyokan kepada salah satu pewarta LPM Progress yang berinisial ARM serta beberapa rekan LPM Progress lainnya. Tindakan kekerasan ini dipicu oleh tulisan ARM yang berisi opininya terkait HMI yang mendorong DPR mengesahkan RUU Omnibus Law.

Dilansir dari inisiatifnews.com dalam beritanya yang berjudul “HMI Dorong DPR Sahkan Omnibus Law” dalam konferensi pers HMI Komisariat Persiapan FTMIPA Unindra yang digelar di Kedai Avicena, Jl Raya Tengah Nomor 4, Gedong, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (17/3/2020). Dengan jelas HMI Komisariat Persiapan FTMIPA mendukung penuh pengesahan RUU Omnibus Law oleh DPR. Menurut mereka, langkah pemerintah yang satu ini merupakan langkah yang hebat menuju Indonesia maju.

Opini ARM yang kontra menuai kecaman dari pihak HMI Komisariat Persiapan FTMIPA Unindra dan mereka meminta pihak LPM Progress menurunkan opini tersebut. Awalnya, sebelum melakukan pertemuan langsung dengan ARM, beberapa orang yang mengaku kader HMI Komisariat Persiapan FTMIPA Unindra mendatangi kos dari YF yang sebelumnya merupakan sekretariat LPM Progress. Beberapa orang yang datang mengenalkan dirinya sebagai Aidil yang kemudian sebagian YF kenal ada juga Remon (Ramadin), Ismail Nurlamba, Kevin, Abdul, Nasrul Matdoan, dan lainnya.

Mereka kemudian menanyakan keberadaan ARM yang kebetulan memang sedang tidak berada di tempat. Oknum yang mengaku kader HMI tersebut mulai bersikap provokatif yang mengancam dan memaksa LPM Progress untuk menurunkan tulisan yang ARM buat serta memanggil ARM datang malam itu juga. Namun penggerudukan itu berakhir karena akhirnya YF menelepon dan ARM berjanji untuk bertemu pada Minggu (22/3/2020) pukul 12.00 WIB.

Pada Minggu (22/3/2020), ARM ternyata mengonfirmasi bahwa baru bisa datang pada pukul 15.00 WIB. Akhirnya pertemuan pun diundur. Dalam hal ini, ARM berkoordinasi dengan Ramadin (Remon) terkait pertemuan. Remon meminta agar ARM datang berdua saja dengan YF, Pimpinan Umum LPM Progress. Setelah ARM menyetujui, disepakatilah pertemuan pada jam 19.00 WIB di kampus B Unindra.

Pada pukul 19.00 WIB, ARM dan YF serta beberapa rekan dari LPM Progress (RMA, RA, dan ZW) bertemu HMI Komisariat Persiapan FTMIPA Unindra. Pertemuan HMI Komisariat Persiapan FTMIPA Unindra diwakilkan oleh Riyad Kurniawan Gusung (Wan Gusung), Remon (Ramadin), Ismail Nurlamba, Kevin, Abdul, Hamri, dan lain-lainnya. Awalnya, mereka bertemu untuk membicarakan tulisan ARM yang dimuat di website LPM Progress. LPM Progress menawarkan Hak Jawab dengan memberikan ruang pihak HMI Komisariat Persiapan FTMIPA Unindra untuk dapat membantah tulisannya dengan tulisan yang bisa diterbitkan di website LPM Progress.

Pukul 19.14 WIB diskusipun mulai memanas, pihak HMI tidak terima atas penjelasan dan tulisan itu. Lalu ada beberapa orang yang belakangan dikenal namanya yaitu Irfan dan Hayat. Irfan lalu mengancam ARM dengan menyatakan akan menunjuk dan membawa parang. Beberapa orang pun mulai mengerumuni ARM dan tidak lama ARM dipukul dari arah belakang.

Sempat dilindungi dan menarik ARM dari tempat kejadian, ARM terus dikejar dan banyak masa yang tidak tahu datangnya mulai mengeroyok. Wajah ARM pun dipukuli lagi yang menyebabkan bagian bibirnya sobek. Rekan LPM Progress mencoba untuk melindungi ARM dari pukulan Hamri, Hayat, Irfan, Ismail, dan beberapa orang lainnya (sekitar ada 20an orang) akibatnya mereka pun ikut diserang secara membabi-buta. YF, ZW, RA, dan RMA diserang serta menderita kerugian materiil dan immateriil.

ARM bersama rekan LPM Progress pun menyelamatkan diri dan berlari menjauhi area. Beberapa warga yang melihat kejadian tersebut pun berusaha untuk melerai. Akan tetapi, Hamri, Irfan, dan beberapa orang lainnya masih mengejar. Irfan mengerjar ARM dan YF dengan menggunakan motor, dan berteriak akan membunuh ARM. Akibat dari pemukulan tersebut, ARM pun terluka dan dibawa ke RS terdekat untuk ditangani.

Berdasarkan kronologi kejadian di atas, dapat kita ketahui bahwa kebebasan pers dalam menyampaikan opini masih belum mencapai target. Pengeroyokan ini adalah salah satu bentuk aksi kecaman yang dilakukan oleh beberapa oknum yang kurang dewasa dalam menyikapi opini kritis. LPM Paradigma selaku salah satu UKM Persma turut berdukacita dan menyayangkan kejadian ini. Ditambah lagi dengan pihak HMI yang nyatanya enggan memberikan penjelasan terkait permasalahan ini.

Dalam rilis pers ini, LPM Paradigma menyatakan sikap yaitu:
1. LPM Paradigma mengecam tindakan pengeroyokan yang dilakukan oleh oknum Kader HMI Komisariat Persiapan FTMIPA Unindra.

2. LPM Paradigma menuntut agar kasus ini diusut sampai tuntas sehingga pelaku bisa ditindaklanjuti dan diberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka.

3. LPM Paradigma bersedia mengawal pengusutan kasus ini dari awal.

4. LPM Paradigma menuntut pemerintah untuk lebih menegaskan hak-hak pers dan menegakkan aturan tentang kebebasan berpendapat

5. Dalam hal ini, apabila ada ketidaksetujuan tentang suatu opini, masih ada hak koreksi, hak jawab, dan hak tolak, sehingga seharusnya oknum-oknum yang bersangkutan tidak main hakim sendiri.

6. LPM Paradigma meminta dukungan dari seluruh civitas kampus Politeknik Negeri Batam untuk mengambil sikap dan menunjukkan solidaritas sesama mahasiswa terkait tindakan pengeroyokan anggota LPM Progress.

7. LPM Paradigma juga mengajak seluruh masyarakat untuk melek terhadap kasus ini dan turut serta mengawal sampai tuntas.

Sumber: https://lpmprogress.com/post/siaran-pers-kronologi-tindak-kekerasan-yang-dilakukan-oknum-hmi-komisariat-unindra
Ditulis oleh: Puput

0 komentar:

Post a Comment