Tuesday, May 29, 2018

Batas Waktu


Gambar terkait

Batas Waktu
Karya : Thiffany Ruth
“Sadarlah aku ada”

Masih sama seperti malam – malam sebelumnya gadis malang itu berkelahi dengan waktu. Diana adalah mahasiswa teknik kimia disalah satu Universitas Swasta di Bandung,  Ia adalah gadis cantik yang sangat santun dan pintar, teman – temannya  sangat senang bergaul dengannya. Dinda juga memiliki intelektual yang tinggi sehingga banyak dosen yang bangga terhadapnya. Namun, kehidupan di rumah berbanding terbalik, sesuatu yang tidak seorang anak pun menginginkannya. Ia tak pernah sekalipun dianggap ada oleh kedua orangtuanya, apapun yang ia lakukan dianggap sebagai suatu kesalahan, perlakuan yang tidak adil menjadi santapan hariannya.
Diana selalu mendapat perlakuan kasar dari kedua orang tuanya, tanpa sebab yang berarti hal itu terjadi. Ia hanya bisa menghapus air matanya dan memendam luka yang dalam “Setidaknya anggap aku ada  kata – kata yang selalu diucapkannya saat ia terluka. Namun, tak ada sandaran nyawa di sampingnya, hanya kamar kosong berdebu yang menemani gadis cantik itu.
Kegiatan kampus yang padat membuatnya harus pulang larut malam untuk mempersiapkan acara yang dipertanggung jawabkan kepadanya. Sepanjang perjalanan kerumah wajah yang ketakutan dan panik membalut wajah lembutnya, namun Diana tetap berusaha kuat untuk menghadapi kedua orang tuanya. Sesampainya di rumah, perlakuan kasar dari Ayahnya kembali didapatkannya. Beberapa luka pukulan yang dalam ditahannya seolah-olah ia adalah manusia batu yang tak merasakan sakit. Tetap berusaha menjelaskan namun tak satupun kalimat yang dianggap berarti, “maafkan aku, Ayah” sembari menahan air mata dan sakit hati, ”dasar anak tak berguna, tak tau diri” kemudian Ayahnya pergi tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Pagi ini, cuaca sangat tidak bersahabat. Hujan turun begitu deras, namun detik jam memaksanya untuk pergi segera agar tidak terlambat masuk ke mata kuliah kesukaannya itu. Segera ia ke ruang tamu dan meminta izin untuk berangkat kepada orangtuanya. Namun, salamnya tak bersambut, dengan berat hati ia melangkahkan kakinya menuju sepeda motor  kesayangannya. Di perjalanan ia menangis dengan kuat meluapkan  semua sakitnya “Tuhan, bolehkah aku bertemu dengan mu?”. Tiba – tiba mobil pengangkut barang menabraknya. Seolah tertidur tenang saat kejadian itu, ia membayangkan Ibu dan Ayahnya memeluknya, Tuhan terasa  begitu dekat dengannya.
Sesampainya di rumah sakit, Diana  harus merelakan nyawanya yang tak tertolong di perjalanan. Ia kehilangan banyak darah, Diana kembali  kepada Tuhan dan tidak merasakan lagi penderitaannya. “Maaf Bu, Saya sudah berusaha, Tapi Tuhan berkehendak lain”.
Kedua orang tuanya menangis dan tidak percaya Diana telah tiada dan tak ada waktu lagi untuk mengubah semuanya. Tak ada yang tersisa hanya  penyesalan terbesar yang tak bisa dikatakan. Setelah pemakaman, orangtua Diana masuk ke kamar Diana, mereka membuka buku diary nya yang bertuliskan:
“ Ma, aku lelah tak bisakah kau memelukku untuk melepas beban ini
Kembalikan saja aku kepada Tuhanku
Seandainya aku disana aku tidak akan terluka
Ma,  aku dituntut menjadi sempurna oleh dunia
Diluar sana aku merasakan keindahan yang luar biasa dari Tuhan
Tapi mengapa di rumah semua berbeda, semua seolah tak nyata
Kehidupan di luar sesekali membuat ku lelah dengan jiwa
Sepanjang jalan aku berdoa sebuah tawa di rumah
Ternyata tamparan dan hinaan terus menjatuhkan, usahaku tak berarti
Ku coba lari ke suatu tempat untuk berdiam di sana
Dengan hayalan melihat mu tertawa dan sadar “aku ada”
Tapi waktu tak lama, Tuhan membatasi waktu ku memintaku untuk pulang
Kita nanti akan berada di dunia yang tak sama
Tapi, aku tetap mencintai kalian”.
Dear Diary ~Diana~
Kedua orangtuanya menagis dengan kuat, penyesalan yang sia – sia menyelimuti mereka, kini Diana telah tiada.





0 komentar:

Post a Comment