Saturday, March 3, 2018

Mata Hati Sajadah

Hasil gambar untuk Sajadah
Mata Hati Sajadah
Oleh: Triana Septiara

Secara perlahan-lahan aku mulai membuka mataku untuk yang pertama kalinya. Pandanganku agak samar, sambil mencoba melihat sekeliling ruangan. Tertangkap oleh mataku, ada banyak kain, benang, mesin jahit, dan masih banyak lagi benda asing yang baru ku lihat. Terlihat juga tulisan di papan nama dekat pintu masuk, yang dipantulkan cermin di sebelah kiriku, bertuliskan “Toko Sajadah Pak Cik”.
Sesaat kemudian, datang seorang lelaki paruh baya, mengenakan pakaian melayu dengan memakai peci putih. Ia menghampiri, dan menaruh diriku ke dalam sebuah kotak kardus, cover tutup kardus tersebut bertuliskan juga Toko Sajadah Pak Cik. Disaat yang sama, aku mendengar langkah kaki seseorang, sambil berbicara ke arah Pak Cik.
“Maaf Pak Cik, saya agak telat datang kemari untuk mengambil pesanan sajadah.” Ucap lelaki tersebut dengan suara yang terdengar berwibawa.
“Tak mengape Pak Handoko, saye maklumkan awak lepas balik kerja, pastilah di jalan pun macet.” Tutur Pak Cik dengan logat Melayu.
“Baiklah kalau begitu, ini uang pembayaran sajadahnya, Pak Cik. Sekalian saya pamit, karena sudah hampir waktu berbuka puasa.” Ucap lelaki bersuara wibawa itu, sambil perlahan berjalan ke arah pintu keluar.
Lelaki yang bernama Pak Handoko ini sepertinya menaruhku di kursi belakang mobilnya, karena aku mendengar ada suara mesin mobil menyala. Setelah melewati perjalanan yang agak lama, mobil yang membawaku pun berhenti di depan rumah mewah bertingkat. Tepat setelah sampai, datang mobil  lain, seorang wanita keluar dari mobil tersebut.
“Tumben sudah pulang, biasa mas buka puasa di luar dengan teman kantor.” Kata wanita tersebut dengan nada suara agak tinggi.
“Besok kan sudah Hari Raya Idul Fitri, jadi kami bisa pulang lebih cepat. Oh, ini tolong minta Bi Yayuk cuci dan keringkan dengan mesin cuci. Sajadah baru mau ku pakai besok shalat Idul Fitri.” Suruh Pak Handoko pada wanita tersebut yang ternyata adalah istrinya.
“Lah, kenapa mas beli lagi, sajadah yang dibeli lebaran lalu kan masih bagus dan jarang dipakai.” Kata istrinya.
“Beda tahun, beda tren motif sajadah. Sudahlah, sebentar lagi azan magrib.” Ucap Pak Handoko.
            Idul Fitri pun tiba, terlihat di sekeliling terbentang sajadah sepertiku di samping kiri dan kanan Pak Handoko. Namun, di belakang pojok masjid ada seorang lelaki tua berpakaian lusuh yang beralaskan kain sarung sebagai alas shalatnya. Ketika yang lain berlomba-lomba untuk memperindah penampilan di Hari Raya Idul Fitri ini, ia malah berpenampilan seadanya, bahkan terlihat kumuh. Tetapi sudahlah, aku bersyukur Pak Handoko menjadikanku alas shalatnya, mudah-mudahan sampai seterusnya aku digunakan olehnya.
 Setelah selesai shalat, Pak Handoko dan istrinya pulang ke rumah. Ia mengambil kotak sajadah kemarin, dan meletakkanku di kotak tersebut, seperti semula, lalu aku disimpan di dalam lemari, yang ternyata ada 2 kotak sajadah lagi di dalam lemari itu. Sepi yang aku rasakan, selama ini hanya berada di dalam lemari. Hanya dipakai satu kali, dan setelah itu tidak pernah digunakan lagi. Kecewa memang, yang ku pikir pertama kali bahwa Pak Handoko selalu memakai diriku sebagai alas shalatnya, ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dan menelantarkanku begitu saja. Mungkin sudah hampir satu tahun aku dilupakan oleh tuanku. Yang lebih miris, kedua sajadah yang terlebih dahulu sudah ada di lemari ini, 2 sampai 3 tahun tidak pernah menghirup udara luar. Sesekali Bi Yayuk membuka lemari untuk manaruh kapur barus.
Waktu demi waktu telah kembali berlalu, kesepian yang kami rasakan semakin memuncak. Dan pada suatu ketika, Pak Handoko membuka pintu lemari dengan memegang paper bag, lalu mengambil diriku dan dua sajadah lainnya, kemudian memasukkan kami ke dalamnya.. Dalam hati, aku bertanya-tanya, mau diapakan kami? Apakah kami akan dibuang?. Terdengar suara mobil dihidupkan, ia menaruh kami di kursi belakang. Entah kemana dia akan membawa kami.
Suara anak-anak mengaji terdengar dari kejauhan. Semakin dekat mobil ini mendekati sumber suara tersebut, semakin jelas pula suara anak kecil sedang mengaji. Pak Handoko mematikan mesin mobilnya, lalu mengambil paper bag yang di dalamnya terdapat aku dan dua sajadah lainnya. Langkah kaki Pak Handoko menuju ke masjid, tempat dimana anak-anak kecil sedang mengaji. Terlihat ada seorang lelaki berumur 40 tahunan mengenakan baju koko dan kopiah hitam yang duduk di depan anak-anak yang sedang mengaji itu. Pak Handoko menghentikan langkah kakinya di depan pintu masuk masjid, sambil mengarahkan pandangannya ke arah lelaki yang sedang mengajarkan ngaji. Lelaki itu mengetahui kalau Pak Handoko ingin menemuinya. Ia pun menghentikan anak-anak yang sedang mengaji tersebut, karena ada urusan dengan Pak Handoko, dan menyuruh anak-anak itu melanjutkan dengan bacaan doa sehari-hari.
“Assalammualaikum, Pak Handoko. Ada apa ya pak datang kemari sore-sore begini?” Tanya guru ngaji itu.
“Maaf mengganggu waktunya Pak Ali, saya jadi tidak enak. Ini ada sajadah yang tidak terpakai, buat jamaah masjid saja.” Jawab Pak Handoko sambil menyerahkan paper bag kepada Pak Ali.
“Terima kasih Pak Handoko atas sumbangannya. Ini sangat bermanfaat untuk masjid ini.” Sambil menjabat tangan Pak Handoko.
Pak Ali memasuki masjid, berjalan ke arah lemari penyimpanan sajadah. Ia mengeluarkan kami dari paper bag dan menaruh kami di atas tumpukkan sajadah lainnya. Aku berpikir, mungkin dengan berada di sini lebih baik daripada berada di rumah Pak Handoko. Aku tidak pernah digunakan sama sekali setelah shalat Idul Fitri lalu. Padahal Pak Handoko dan istrinya berkehidupan yang serba tercukupi, bisa dikatakan hidup mewah, mereka orang berpunya. Namun harta titipan tuhan tersebut dirasa tidak cukup bagi mereka. Buktinya mereka masih saja sibuk bekerja sampai lupa waktu shalat. Sungguh sangat disesalkan memang. Akan lebih baik kalau kehidupan di dunia seimbang dengan urusan agama untuk di akhirat kelak. tapi apa daya, aku hanya bisa terdiam bisu tidak dapat berbicara, karena amal seseorang hanya Sang Pencipta yang mengetahuinya.
Waktu demi waktu berlalu, semakin lama dugaanku semakin berbeda. Yang awalnya aku mengira akan sering digunakan, karena ini adalah tempat ibadah. Namun kenyataannya berbeda, hanya ketika shalat jumat saja masjid ini ramai oleh jamaah. Pada hari-hari biasa ramai oleh anak-anak kecil mengaji bersama Pak Ali dari selepas ashar. Tapi, kecuali ada seorang lelaki tua yang selalu datang ke masjid setiap waktu shalat tiba. Wajahnya tidak asing, seperti pernah kulihat sebelumya. Haa, baru ku ingat, ketika shalat Idul Fitri lalu, ada seorang lelaki yang mengenakan sarung sebagai alas shalatnya, di pojok belakang masjid. Ia masih mengenakan pakaian yang lusuh, ia juga selalu melaksanakan shalat di pojok belakang masjid dengan beralaskan kain sarung lusuhnya. Dalam hatiku masih bertanya-tanya kenapa ia selalu shalat di pojok belakang, dan tetap mengenakan sarung lusuhnya, padahal banyak sajadah yang disediakan masjid tertumpuk di lemari penyimpanan.
Dan pada suatu waktu ketika shalat magrib tiba, terlihat seorang lelaki berpakaian lusuh itu sedang menunggu iqamah dikumandangkan untuk menunaikan shalat magrib. Seperti biasa ia berada di belakang pojok masjid. Datang pak Ali menghampirinya,
“Assalammualaikum, Pak Hasan?”  Pak Ali memasuki masjid setelah mengambil wudhu menyapa lelaki berpakaian lusuh itu.
“Waalaikumsalam, iya Pak Ali.” Menoleh ke samping kirinya yang sudah berdiri Pak Ali di sampingnya.
“Bapak kenapa selalu mengambil tempat di sini? Shaf depan masih banyak yang kosong pak.” Tanya Pak Ali dengan nada ramah.
“Tidak apa pak, pakaian saya lusuh, kotor habis mulung tadi di jalan. Takut mengotori lantai masjid.” Jawab Pak Hasan dengan suara terbatuk-batuk.
“Masyaallah… jangan begitu, Pak. Kita sama-sama manusia. Tuhan tidak membeda-bedakan umatnya selama di dunia.  Lebih baik berpakaian lusuh tetapi selalu melaksanakan ibadah, daripada berpakaian jas tetapi melupakan waktu ibadah.” Nasihat Pak Ali kepada Pak Hasan.
“Saya merasa tidak pantas saja, saya malu dengan tuhan, Pak. Dikehidupan ini, saya hanya bekerja sebagai pemulung.” Ucap Pak Hasan.
“Sudah, ayok ke shaf depan pak, sudah mau iqamah.” Merangkul Pak Hasan untuk pindah ke bagian depan masjid.
Pak Ali mengambil diriku dari tumpukan sajadah, dan membentangkannya untuk Pak Hasan. Shalat magrib pun di mulai, dengan Pak Ali sebagai imamnya. Shalat dan doa setelah shalat telah selesai, Pak Hasan bersalaman dengan Pak Ali, lalu bergegas ke arah pintu masjid.
”Pak Hasan, tunggu dulu.” Beranjak berdiri dari tempat imam, ia melangkah ke arahku lalu menarik diriku. “Ini untuk bapak, di sini masih banyak sajadah yang tidak terpakai, karena jamaah sangat jarang shalat berjamaah.” Tutur Pak Ali.
“Alhamdulillah, terimakasih Pak Ali. Saya doakan semoga warga lain diluangkan waktunya untuk shalat berjamaah bersama di sini.” Ucap syukur Pak Hasan sambil memelukku.
Pak Hasan melangkah keluar dari masjid, ke arah sepeda yang dibagian jok belakangnya tertumpuk kardus bekas. Ia menaruh diriku di keranjang bagian depan sepeda. Ia mengayuh sepeda dengan perasaan bahagia. Kurang lebih setengah jam dari masjid, akhirnya lelaki lusuh ini menghentikan sepedanya di depan rumah kecil berdinding anyaman bambu yang bolong dimana-mana. Atap rumahnya pun banyak ditambal dengan terpal. Ia kemudian masuk ke dalam rumah, sambil membawaku yang tadi dia letakkan di keranjang bagian depan sepedanya. Terlihat di bagian dapur, ada asap yang mengebul dari tungku pembakaran. Istrinya ternyata yang sedang memasak untuk makan malam. Azan isya’ pun berkumandang. Setelah Pak Hasan dan istrinya selesai makan, mereka langsung mngambil wudhu untuk melaksanakan shalat isya. Dengan perasaan bahagia, Pak Hasan membentangkanku sebagai alas shalatnya, Hari demi hari telah ku lalui. Walau berada di rumah kecil yang kumuh ini, aku merasa senang karena aku sangat digunakan untuk beribadah. Kekurangan dari segi ekonomi tidak menjadi halangan bagi keluarga Pak Hasan untuk beribadah kepada tuhannya. Begitulah akhirnya perjalanan hidupku yang berbeda situasi dan kondisi, dari rantai kehidupan bagian atas sampai ke bawah. Akhirnya aku bisa hidup dengan nyaman dan bahagia sampai akhir hayat nanti.

***


0 komentar:

Post a Comment