Sunday, March 11, 2018

Cinta Anak Kampus

Hasil gambar untuk cinta
Cinta Anak Kampus
Oleh: Hikma Agustin

“Ya Allah, aku kesiangan lagi bangunnya.”
Kuliah pagi adalah perjuangan yang sangat berat bagi saya. Tapi kewajiban untuk mengikuti setiap perkuliahan membuat saya berusaha sekuat tenaga untuk bangun pagi. Bergegas berangkat ke kampus menggunakan motor dengan kecepatan yang sangat kencang. Setelah sampai dan memarkirkan motor layaknya pembalap, akupun bergumam pada diri sendiri.
“Mampus… mampuss… aku telat…. Masih boleh masuk gak iya kira-kira” gumamku.
Berlari menyusuri jalan kampus sambil sesekali menerima sapaan kawan-kawan yang memberi lambaian salam hangat buat untukku, itu sudah menjadi kebiasaan jika sedang berada dikampus. Di depan lift kampus sesekali membuka buku memeriksa ada yang tertinggal atau ada yang kurang.
Tak sadar saat pintu lift terbuka dan ada seorang pria tinggi tegap dan sangat gagah didalam lift, wajahnya putih bersih dengan kemeja krem kotak-kotak celana jeans biru itu terlihat sangat keren dan elegan.
“Mau masuk iya?” menyapaku dengan lembut
“Eh..i…iya, maaf.” Ucapku mencoba menyapa kembali.
Aku masuk ke dalam lift saat aku menyentuh tombol tutup, tanpa sengaja pria itu juga menyentuh tomol tutup. Jari kami saling bersentuhan membuat kami sama-sama terkejut dan saling minta maaf seraya aku menekan tombol lantai 7. Hal ini sontak membuat jantungku bergejolak. Lantai 2 ke lantai 7 seharusnya sangat dekat dan cepat. Tapi kali ini tidak biasa. Pergerakan lift terasa sangat lambat dan membuat aku semakin salah tingkah, sesekali mataku tertuju pada sosok disampingku.
Selama di kampus baru kali ini aku melihat pria itu, mungkin karena sosok lelaki tinggi tegap yang berdiri disampingku membuat aku berfikir satu sosok yang mencuri perhatianku diantara ribuan mahasiswa. Pikiranku terus melayang tak tentu arah dan dadaku semakin berdegub kencang tanpa memahami apa yang sedang terjadi.
“Hai, nama kamu hikma kan?” entah angin apa yang membuat sesosok itu menyapaku seakan-akan berkenalan didalam lift.
“Eh… iya, kamu tau dari mana? Aku mencoba menyapanya kembali dan berusaha bersikap biasa.
Tak sempat lagi bibirnya menjawab pertanyaanku pintu lift terbuka dan pria itu melenggang sambil mengedipkan matanya kearah ku. Aku yang terkejut dengan apa yang terjadi beberapa saat sebelumnya, dengan bibir yang menganga namun tak mampu lagi mengungkapkan apapun. Seharusnya itu bukan sesuatu yang aneh bagi ku, namun apa yang terjadi barusan bener-bener mencuri perhatianku. Ingatanku tentang pria itu masih kuat di dalam otakku. Hanya saja dia yang berhasil membuat ku terdiam dan terpaku tak berdaya pada sesuatu yang seharusnya sudah biasa namun kali ini bener-bener luar biasa.

0 komentar:

Post a Comment