Sunday, August 6, 2017

Haruskah Jarak Menjadi Penghalang Cinta?

Oleh : Puspa Kartikaning Wikono
Hari ini tepat tiga tahun kejadian itu terjadi. Renata tak sengaja singgah di tempat ini. Taman ini menjadi saksi perpisahan dirinya dan Randy pria yang menjadi sandaran hatinya. Ingatannya kembali terkenang oleh peristiwa itu, peristiwa yang masih membekas dalam ingatan. Peristiwa yang mungkin takkan pernah ia lupakan.

Dulu mereka adalah satu, Renata adalah Randy dan Randy adalah Renata. Mereka sangat dekat dan hampir tak terpisahkan. Sampai pada akhirnya semua itu berubah.

“Ren, ntar pulang sekolah ikut aku bentar ya. Kamu gak ada urusan kan?,” ujar pria tampan yang menghampiri Renata.
“Emang mau kemana, Ran? Aku gak ada urusan kok,” jawab Renata.
“Ada deh, pokoknya kamu ikut aja. Nanti aku kasih tau kita bakalan ngapain. Oke sayang?,” balas Randy
“Ihhh, kamu tu ya sukanya aneh-aneh. Oke deh sayang,” sembari mencubit pinggang Randy
“Hahahaa,” balas Randy sembari menatap wajah Renata.
Haruskah jarak menjadi penghalang cinta?

Wanita mana yang tak terpikat oleh Randy. Sosok yang tampan, tutur cemerlang dan memiliki hati yang tulus. Sungguh beruntung apabila dapat menjadi tambatan hati Randy dan orang yang beruntung itu adalah Renata.

“Eh, Ren. Tadi aku denger kamu diajak jalan ya sama Randy? Ciee,” ujar seorang gadis yang menghampiri Renata.
“Aaaah apa sih, Nad. Paling dia ngajakin makan doang,” balas Renata.
“Ia sih, kesannya makan. Tapi kan romantis. Duhh gue sebagai sahabat lo iri nih, Nad! kapan ya gue bisa taken juga,” celoteh Nadya sambil tertawa kecil.
“Iya deh gue doain semoga lo cepetan taken
“Amiin, eh udah bel masuk. Yuk!,”
“Yuuk”

Renata dan Nadya menyudahi pembicaraan mereka dan segera masuk ke kelas. Dalam hati Renata tak sabar ingin cepat pulang. Ingin rasanya ia memutar waktu agar  rasa penasaran dalam hati dapat terjawab. Apa yang akan dilakukan Randy setelah pulang sekolah? Renata hanya bisa mengubur rasa penasarannya dengan waktu.

Pada akhirnya sang waktu menjawab semua kegundahan. Waktu yang dinanti telah tiba. Renata keluar menyusuri lorong-lorong kelas. Ia mempercepat langkah agar lebih cepat menemui Randy. Sesekali ia melirik ke sekitar untuk dapat menemukan sosok Randy. Tampak di kejauhan Randy sudah menunggu di depan gerbang. Renata bergegas menemuinya.

“Ran, sorry ya udah nunggu lama,” ujar Renata yang tampak tergesa-gesa.
“Iya nggak apa kok sayang, aku juga nunggunya belum lama. Yuk kita pergi! Nih kamu pake helmnya,” balas Randy sembari memberikan helm pada Renata.
“Oke deh, makasih ya, Ran,” balas Renata sembari tersenyum.

Randy pun akhirnya membawa Renata ke tempat yang ia tuju. Setiba di tempat tujuan Randy memakaikan penutup mata kepada Renata. Dengan lembut ia menuntun langkah kaki Renata. Randy membawa Renata ke sebuah taman kemudian ia membuka penutup mata tersebut.

Surpriseeeeee, Happy Anniversary!!!,” teriak Randy sembari memberikan segenggam bunga kepada Renata.
“Waaahhh, Ran ya ampun kamu tuhhh…. Makasih yaa. Aku gak bisa berkata apa-apa lagi nih,” balas Renata sembari memeluk Randy dengan mata yang berkaca-kaca.
“Iyaa, sama-samaa. Kamu seneng kan? Sorry ya aku gak bilang dulu tadi mau ke mana.”
“Iyaa aku seneng banget, tuhh kan aku udah ku duga pasti kamu mau ngelakuin hal aneh.”

Tiba-tiba langit pun seperti ingin menambah keromantisan mereka. Hujan turun membasahi bumi. Randy pun bergegas menarik tangan Renata. Mereka pun segera bergegas meneduhkan diri di sebuah pondok-pondokan kecil.

“Ren, ini pakai jaket aku biar gak kedinginan,” ujar Randy sembari menyematkan jaket ketubuh Renata.
“Gak usaah… aku nggak apa-apa kok, Ran. Kamu pakai aja nanti kamu kedinginan,”
“Udah pakai aja, nanti kamu masuk angin. Dingin banget loh”
“Iya, Ran. Terima kasih, yaaa.”
“Iya, sama-sama. Eh Ren, sebenernya ada sesuatu yang pengen aku omongin. Dan aku takut hal ini buat kamu sedih,”  ujar Randy menambahkan.
“Apa Ran? Kok serius banget? Bilang sama aku,” balas Renata yang terlihat penasaran.
“Nggak ada apa-apa ko, Ren. Kamu salah denger aja tadi. Eh ujannya udah mau reda kita pulang yuk,” jawab Randy mengalihkan.
“Raaann, aku serius aku denger yaa tadi kamu jangan ngalihin deh!!,” balas Renata dengan nada kesal.
“Hmmm.. sebenernya ini bukan waktu yang tepat untuk aku bilang tentang hal ini. Besok adalah hari kelulusan kita. Lusa aku dan keluarga bakalan pindah ke Belanda, Ren. Sebenernya aku udah cegat dan aku gak mau pindah ke sana. Tapi percuma….”

Renata pun terdiam mendengar ucapan Randy. Ia masih tak percaya apa yang diucapkan Randy barusan. Hatinya seperti teriris tetapi ia berusaha untuk tegar. Haruskah ia berpisah dengan Randy orang yang selama ini mengisi warna di hari-harinya.

“Kenapa kamu baru bilang sekarang, Ran? Nggak apa-apa kok kita LDR. Aku siap kok. Mungkin ini ujian buat hubungan kita”
“Aku juga siap Ren. Tapi yang jadi masalah aku ga bakalan balik lagi ke Indonesia. Dan aku gak tau bakalan ketemu kamu lagi apa nggak”
“Kamu jangan pesimis gitu dong, Ran. Nggak apa kok kalo kita ketemu gak setiap tahun. Udahlah nggak usah takut”
“Iya, Ren. Nanti aku pikirin gimana jalan terbaiknya. Yuk, kita pulang.”

Renata lalu menggenggam tangan Randy. Hari ini ia berharap semua hanya mimpi. Masih terngiang jelas di telinganya apa yang diucapkan Randy. Perasaannya seperti tertampar tapi ia tetap merasa tegar. Rasanya ia ingin menghapus hari, tak ingin hari perpisahannya terjadi.

“Ren, aku pulang dulu ya. Lusa aku tunggu kamu di taman tadi. Kamu jangan sedih dan kepikiran hal tadi ya, Ren. Aku sayang kamu,” ujar Randy setiba di kediaman Renata.
“Iya, Ran. Terima kasih udah nganterin aku. Makasih juga surprise-nya. Aku yakin kok kita bakalan bisa menghadapi masalah ini,” jawab Renata sembari tersenyum tipis.
“Udaah ahhh, jangan sedih.. dah sayaang.”
“Dadaaaa.”

Malam akhirnya tiba. Waktu semakin cepat berlalu. Sungguh Renata tak ingin hal yang ditakutkannya terjadi. Tak sanggup rasanya berpisah dengan Randy. Ia menatap keluar jendela, rembulan seperti mengetahui isi hatinya. Ia tak menyadari tiba-tiba air matanya menetes. Perasaanya kian gelisah. Tak banyak yang dapat ia lakukan kecuali memasrahkan pada tuhan.

Ternyata benar, sang waktu benci untuk menunggu. Hari ini adalah hari yang ia takutkan. Kegelisahan tampak jelas di wajahnya. Ia bergegas bertemu Randy di sebuah taman yang waktu itu mereka janjikan. Jantungnya berdegub kencang. Bukan karna jatuh cinta melainkan oleh rasa takut kehilangan. Ternyata Randy belum tiba di taman tersebut. Tak masalah bagi Renata untuk menunggu. Tapi kali ini pandangannya tak bisa diam memperhatikan sekitar.

“Rennn, udah lamaa?,” tegur pria yang mengagetkannya.
“Eh, Randy. Nggak kok, barusan aja. Kamu udah mau pergi?,” tanya Renata lirih.
“Maaf aku terlambat. Belum kok masih ada waktu 15 menit. Ren ini aku ada sesuatu buat kamu. Buka deh.”
“Apa ini, Ran? Kalung? Ohh iya, ini aku ada jaket buat kamu. Biar di sana kamu gak kedinginan.”
“Iya, kalung ini buat kamu. Makasih, Ren. Tuhkan kamu repot-repot.”
“Nggak apa-apa kok, Ran. Biar kamu inget terus sama aku. Hehehe,” jawab renata
“Ren, aku mau ngomong sesuatu… Aku minta maaf banget sama kamu. Sekali lagi aku minta maaf.”
“Ngomong apa, Ran? Maaf? Yaudah lah nggak apa-apa. Kamu gak salah kok”
“Hmmm… maaf, Ren. Hubungan kita kayaknya gak bisa dilanjutin kita udahan aja ya.”
“Kok kamu ngomong gitu, Ran. Jangan becanda deh.”
“Aku gak becanda kok, Ren. Aku serius. Lagi pula kalo dilama-lamain juga bakalan gak enak. Maafin aku ren. Aku pergi dulu.”

Seketika langit berubah menjadi gelap. Gemuruh pun mulai terdengar. Hujan mulai menampakkan diri. Sepertinya alam turut merasakan isi hati Renata. Randy bergegas meninggalkan Renata dan langsung masuk kedalam mobilnya. Renata tak sempat menahan langkah Randy.

Ia hanya terpaku diam menatap sisa-sisa bayangan Randy. Sungguh air matanya tak dapat lagi dibendung. Hujan turun bersamaan dengan air matanya. Bibirnya tak mampu lagi berkata, selain duduk termangu di kursi taman. Sungguh bukan perpisahan seperti ini yang ia inginkan.

Semenjak kejadian tersebut, Renata  tak pernah lagi mendengar kabar tentang Randy. Keberadannya seperti hilang ditelan bumi. Sejak saat itu Renata dan Randy terpisahkan. Sejak saat itu pula mengenang Randy adalah sebuah kepahitan. Ia tak membenci Randy tapi ia menyayangkan sebuah perpisahan yang seperti ini. Jarak bukanlah penghalang melainkan untuk menguatkan. Sampai detik ini Renata belum dapat membuka hati. Karna cinta tak semudah menambatkan hati.

“Aku membenci mengingat hal ini. Tapi aku tak pernah membenci pertemuan kita. Hanya saja aku membenci perpisahan kita,” gumam Renata dalam hati sembari meninggalkan taman.


-TAMAT-

0 komentar:

Post a Comment