Friday, July 14, 2017

Tinta dan Kertas Kusam Ayah

Dunia ini terasa berhenti, ketika Nayla harus siap menerima kenyataan pahit, yaitu memiliki seorang ayah dengan keadaan cacat. Keinginannya mempunyai seorang ayah yang lebih sempurna, seorang laki-laki yang tidak cacat, seperti ayahnya semua orang. Seorang ayah yang dapat mendengar harapannya, dan kekhawatirannya. Di rumah petaknya, Nayla tinggal bersama ayah dan adiknya Feby, sesudah kematian ibunya 8 tahun yang lalu.
Sumber Gambar : masmoe.wordpress.com
            Nayla adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Gadis berjilbab, cantik, alim, dan lumayan cerdas. Umurnya baru menginjak 17 tahun, ia duduk di Sekolah Menengah Atas di Kota Batam. Jabatan yang diembannya memaksanya untuk terus berpikir bagaimana cara untuk mengubah keadaan ekonomi keluarganya yang semakin parah, ditambah lagi Feby adiknya sudah menginjak kelas 6 Sekolah Dasar yang sebentar lagi memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP). Semakin banyak biaya yang dibutuhkan Feby untuk melanjutkan pendidikannya dan semakin banyak peralatan sekolah yang ia butuhkan. Nayla dan Feby bisa melanjutkan pendidikannya karena kecerdasannya. Namun hal ini tidak membuat keduanya berpangku tangan. Terkadang terbesit untuk melanjutkan pendidikannya disuatu universitas impiannya. Ya impiannya. Yang selalu hanya impian 6 huruf yang mempersulit hidupnya.
            Pagi ini seperti hari-hari biasanya, Nayla harus bangun pagi mempersiapkan sarapan untuk makan ayah dan adiknya. Selain itu ia juga harus memandikan ayahnya dan membersihkan semua ruangan rumah sebelum ia pergi menuntut ilmu. Ayahnya yang cacat dengan tangan yang hanya bisa digerakkan membuatnya sulit untuk mengetahui kemauannya. Perkataan yang kelaur dari mulut ayahnyapun tidak begitu jelas, sehingga ia meletakkan selembar kertas dan sebatang pena yang digunakan ayahnya untuk berkomunikasi.
 “Sarapan sama apa kita Kak pagi ini?” Tanya Feby kepada Nayla.
 “Seadanya aja Feb, hanya ada nasi dan lauk tempe” jawab Nayla dengan sedih memandangi adiknya.
“Ayah mau sarapan sekarang?” Tanya Nayla.
 Ayah pun hanya bisa mengganguk dan menyodorkan secarik kertas kepada Nayla.
 “Besok uang dari sekolahan jangan buat berobat ayah tapi belikan Feby ayam goreng kesukaannya.”
Nayla dan Feby membaca catatan dari Ayahnya.
 “Tidak usah Ayah, lauk tempe sudah cukup kok” ucap Feby sambil memeluk ayahnya yang hanya bisa terbaring di tempat tidurnya.”
            Sebelum berangkat sekolah, Nayla menyiapkan semua kebutuhan untuk ayahnya. Dan merekapun berpamitan. Seperti biasa, ayah hanya bisa menyodorkan kertas kusamnya yang berisi pesan untuk kedua anaknya.
“Hati-hati dijalan ya Nak, belajar yang rajin biar kelak jadi anak yang selalu berguna untuk ayah dan orang lain. Ayah selalu mendoakan kalian dimanapun kalian berada. Ayah dirumah akan baik-baik saja.”
Nayla dan Feby memeluk dan mencium tangan  ayahnya tercinta. Mereka sebenarnya tidak begitu tega meninggalkan Ayahnya sendiri dirumah, namun Ayah tetap memaksa agar mereka harus terus sekolah.
            Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat  sudah saatnya Nayla dan Feby  berangkat ke sekolah. Jarak menuju sekolah sekitar 2 km. Tidak seperti teman-temannya yang diantar orang tuanya namun kedua gadis ini berangkat dengan mengayuh sepeda tua milik ayahnya yang dulu dipakai sebelum jatuh sakit. Untung saja sekolah Feby tidak terlalu jauh dan masih satu lingkungan dengan kakaknya Nayla.
Sesampai di sekolah, Nayla mengikuti pelajaran dengan seksama. Nayla yang selalu menduduki peringkat pertama di sekolahnya membuat guru-guru sangat bangga dengannya. Dengan prestasi yang didapat membuatnya memperoleh beasiswa sekolah yang mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
Teeeet...teeeettt... jam istirahatpun berbunyi, semua siswa keluar kelas untuk menuju ke kantin. Sedangkan Nayla hanya duduk dikelas menunggu bel masuk berbunyi dan berganti dengan pelajaran selanjutnya.
Tiba-tiba Aulia datang menghampiri Nayla.
“Nay kamu dipanggil Bu Nasiah tuh,” Kata Aulia sambil memegang bakso bakar ditangannya.
“Oh iya, dimana?” Tanya Nayla
“Dikantor guru, kamu tau kan mejanya Bu Nasiah?”
“Iya tau, makasih ya aku segera kesana”. Jawab Nayla meninggalkan Aulia di kelas.
            Naylapun berjalan menyusuri koridor sekolahnya sambil memberikan senyuman manis kepada teman yang ia temui. Sesampainya di kantor ia mencari meja Nu Nasiah dan menghampirinya.
 “Assalamualaikum Bu,” sapa nayla kepada wali kelasnya.
 “Waalaikumsalam Nayla, gimana kabar ayah kamu? Tanya Bu Nasiah dengan senyumannya.
“Alhamdulillah Bu, sehat. Ibu memanggil saya?” ucap nayla.
Inu disuruh oleh kepala sekolah untuk memberikan ini kepada kamu”. Bu nasiah menyodorkan amplop putihnya kepada nayla.
Terima kasih banyak Bu," balas nayla sambil menerima amplop dan menyalaminya.
Bel tanda selesainya istirahat berbunyi. Naylapun berpamitan untuk segera masuk ke ruang kelas pelajaranpun dimulai kembali.
            Tak terasa waktu sekolah telah selesai. Semua siswa berlarian menuju pintu gerbang menunggu jemputan orang tua. Begitu juga dengan Feby yang sudah menunggu kakaknya disamping sepeda tuanya dan merekpun pulang bersama.
Loh kak, kenapa arahnya kesini? Kitakan belok kanan Kak?” tanya Feby penasaran.
Coba tebak kita mau kemana?” Tanya Nayla.
Ke pasar ya Kak?” Feby mencoba menebak.
“Seratus!” senyum Nayla memberikan nilai untuk adiknya.
            Sampai di pasar sepedanyapun disandarkan di dekat pintu masuk pasar. Mereka mencari ayam potong dan bumbu untuk membuat ayam goreng kesukaan Feby. Feby begitu semangat menyusuri deretan pedagang di pasar. Setelah semua dibeli tidak lupa mereka membeli obat untuk ayahnya. Dan perjalanan pulang dilalui.
            Dirumah, mereka langsung menghampiri ayahnya yang sudah menyiapkan sarung dan pecinyaa. Nayla segera ganti baju dan bergegas membawa air wudhu untuk ayahnya. Sedangkan Feby menyiapkan makanan untuk makan siang.
Selesai wudhu ayah menyodorkan selembar catatan untuk Nayla.
“Kamu ambil air wudhu ajak Feby untuk solat dzuhur berjamaah selesai solat kita makan bersama”.
Nayla dan Feby segera mematuhi perintah ayahnya. Mereka bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan solat. Selesai solat Nayla menyiapkan makanan untuk ayahnya.
Ketika makan, ayahnya terkejut melihat lauk makan siang hari ini, ayam goreng yang sudah di masak Feby. Ayahnyapun menulis catatan untuk kedua gadisnya.
“Uang dari sekolah disimpan untuk kamu aja Nay, dipakai untuk keperluan kamu dan Feby saja.”
Nayla menjawab catatan ayahnya, “Iya ayah, tadi Nayla juga sudah membelikan obat buat ayah  sisa uang sudah Nayla simpan di almari untuk keperluan sehari-hari kita.”
Nayla, Feby, dan ayahnya melahap makan siang dengan lauk ayam goreng yang hanya bisa dibeli ketika mendapat uang dari sekolahnya. Selesai makan mereka beristirahat, tidak lupa Nayla memberikan obat untuk ayahnya.
            Waktu sudah munjukkan pukul tiga sore, mereka dibangunkan oleh kumandang adzan ashar, Nayla bergegas memandikan ayahnya dan merapikan ruangan rumah. Feby pergi mengaji disurau dekat rumahnya.
 “Feby pamit berangkat ngaji dulu ya, Yah” pamit feby kepada ayahnya. Ayah feby hanya bisa mengganguk tanda setuju dan tersenyum.
            Hari-hari yang dilalui keluarganya begitu bahagia walaupun keadannya kurang mencukupi. Nayla hanya bisa bersyukur dengan apa yang telah Allah SWT berikan kepada keluarganya. Melihat sang ayah yang hanya bisa terbaring di tempat tidur membuatnya merasa iba. Telah berbagai usaha yang dilakukan untuk mengobati ayahnya, namun semuanya nihil.
            Ditengah malam ketika Nayla dan Feby sedang tidur lelap ayahnya menulis catatan kecil diatas kertas kusamnya. Dan disepertiga malam, Nayla dan ayahnya bangun untuk meminta dan memuji ke agungan-Nya.
 “Kak, jam berapa sekarang?” tanya Feby dengan mata sembab bangun tidur.
“Jam tiga pagi, ayo bangun kita ambil air wudhu.” Pinta Nayla
“Hari ini feby libur dulu ya kak” ucap feby memancal selimut kembali dalam tidurnya.
Ayah dan Naylapun memandang tersenyum. Nayla kembali melakukan dialognya kepada Allah untuk semua permohonannya, dalam hati Nayla berdoa.
 “Ya Allah, engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tolonglah kami agar kami mengerti, menerima, percaya, memaafkan dan dimaafkan. Memberi dan menerima, mencintai dan dicintai serta berani menatap jauh kedepan untuk kedihupan yang lebih baik, lebih indah dan membahagiakan. Berikanlah hamba kesabaran dan kekuatan dalam menjalani kehidupan didunia yang beliku-liku ini. Berikanlah hamba kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan yang Engkau berikan dan panjangkan umur hamba, adik, serta ayah hamba. Angkatlah segala penyakit yang diderita oleh ayah hamba ya Allah. Aamiin “
             
            Hari ini Jumat 14 Juli 2017. Matahari mulai muncul mengeluarkan cahayanya. Menyinari kegelapan bumi dan menjadikannya terang. Tanda aktivitas manusia dimulai dan dilalui. Tiba-tiba ayah Nayla menyodorkan catatan setelah selesai beliau dimandikan.
“Nayla pakaikan ayah baju putih pemberian ibu, hari ini ayah sangat rindu ibu”
Iya ayah, Nayla juga selalu rindu ibu” ucap Nayla meneteskan air mata.
Feby.. tolong ambilkan ayah baju koko putih yang ada di almari” pinta Nayla.
Iya kak..” jawab Feby dengan mencari baju koko putih ditumpukan baju dalam almari.
Tak terasa jam dinding dirumahnya menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat. Waktunya Nayla dan Feby berpamitan meninggalkan ayahnya untuk menimba ilmu. Sepeda tuanya sudah siap dibawa ke sekolah. Sebelum berangkat  ayahnya menyodorkan secarik kertas untuk kedua putri kecilnya.
Hati-hati dijalan ya Nak. Nayla jaga Feby. Ayah rindu ibu. Kalian yang rajin ya belajarnya, tetap semangat jangan tinggalkan shalat 5 waktu kalian ya Nak. Ayah selalu mendoakan kalian agar kelak kalian menjadi orang yang sukses berguna bagi ayah dan orang lain.”
Kami juga rindu ibu, Yah. Kami berangkat sekolah dulu ya Yah. Ayah baik-baik dirumah".
            Sesampai di sekolah ketika sedang mengikuti pelajaran di kelas, tiba-tiba seluruh ruangan bergetar dan semua gambar di dinding kelas bergoyang dan berjatuhan. Siswa yang ada di kelaspun keluar dengan panik. Nayla sangat takut dengan keadaan ayahnya dirumah. Dia tak memperdulikan lagi keadaan di sekolah. Dia langsung mencari sepeda untuk segera pulang ke rumah. Bu Nasiah menahan Nayla untuk tetap tenang dan berada di lingkungan sekolah, namun Nayla bersikeras untuk pulang dan meninggalkan sekolahnya karena menginat ayahnya di rumah.
Nayla dengan kecepatan tinggi mengayuh sepeda dan sampailah ia di depan rumahnya. Dia langsung menuju kamar ayahnya dan melihat ayahnya yang sudah berbaring di lantai kamarnya.
 “Ayaaaaahhhh..!!!” jerit Nayla mendekap sang ayah.
Tiba-tiba Feby datang dan berlari menuju rumah. Setelah tau keadaannya diapun menangis dan mencoba membangunkan ayahnya yang sudah tidak bernyawa.
 “Ayah.. bangun.. jangan tinggalin Feby Yah.. Feby sayang ayah..!” isak tangis Feby sambil memeluk sang ayah.
“Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un..”
Semua tetangga mendatangi rumah Nayla dan membantu mengurus jenazah almarhum.       
Setelah semua proses pemakaman selesai. Nayla dan Feby membereskan semua ruangan rumah yang rusak dan berantakan karena gempa. Ketika sedang membersihkan kamar Ayahnya, Feby menemukan secarik kertas catatan milik ayahnya dan mereka membacanya bersama.
 “Nayla, Feby, maafkan ayah ya Nak, selama ini ayah selalu merepotkan kalian berdua. Kalian adalah anak yang paling ayah banggakan. Jaga sholat dan iman kalian ya Nak. Hadapi hidup dengan senyuman. Ayah percaya kelak kalian akan menjadi orang yang sukses dan bahagia dengan hidup kalian masing-masing. ayah pergi menyusul ibu dulu ya Nak. Kalian berdua baik-baik dan jangan lupa doakan terus ayah dan ibu ya Nak.. Ayah sayang kalian selalu, dimanapun kalian berada".

            Genangan air mata seakan tumpah dipipi kedua gadis itu. Kematian ayahnya yang begitu cepat membuat mereka sadar bahwa ayahlah segalanya. Kini Nayla menjalani hidup hanya berdua dengan Feby. Hari-hari berbalut dengan kesedihan dan luka yang mendalam. Namun mereka yakin Tuhan akan menurunkan seoarang malaikat yang akan menemani dan mebuat tawa bahagia untuk hari esok dan seterusnya.

0 komentar:

Post a Comment