Saturday, April 8, 2017

Tangis Senja

doc.LPM Paradigma Polibatam
Akan selalu ada senja setiap hari, dalam setiap langkah bulan, dan setiap perjalanan tahun. Seperti halnya hari ini, senja itu datang. Namun kali ini ia tidak seindah sebelumnya. Kusam, buram, kelam. Begitu juga dengan raut ibuku, kelam. Aku pulang dengan beribu tanya dalam otakku, di halaman rumah terdapat bendera hitam, orang mengenakan pakaian serba gelap, dan rintihan tangis terdengar dari dalam rumah. Kupandangi sekelilingku, wajah-wajah mereka enggan melepas senyum menatapku dengan perihatin. Dalam benakku terlintas banyak kemungkinan. Yang kutahu, bendera hitam tanda bahwa ada orang meninggal. Tapi siapa? Ayah? Ibu? Atau saudaraku? Namun batinku menolak untuk mengakui siapapun yang meninggal itu. Sekarang, kupercepat langkahku dengan pertanyaan-pertanyaan dalam otakku. Saat memasuki rumah, dan apa yang terlihat? Ibu terduduk lemas disisi jasad seseorang yang sangat aku kenali terlelap damai, Ayah.

            Disenja itu, ibu yang menangis hingga air matanya tidak keluar lagi, suaranya parau dan matanya sembab. Tangis ibu bagai pekikan elang yang kehilangan sayap indahnya. Ia meraung, berteriak sejadi-jadinya di hadapan jenazah ayah. Iya, Ayah. Apa aku mimpi? Tapi bukankah ini terlalu terlihat nyata untukku mimpikan?

Tangisannya semakin menjadi ketika segerombolan orang yang mebopong jasad dengan keranda itu datang. Kutatap jasad yang damai itu, dalam hatiku aku merintih seakan tidak terima apa yang terjadi, “Ayah, apa ini? Ayah ingin memberi kejutan ulang tahunku? Bukankah ini sedikit berlebihan yah?” Aku berkelahi sendiri dengan keadaan dan pikirku yang terus bernalar. Aku melihat ketidakrelaan tersirat dari wajah ibu. Aku mendekat dan kupeluk ibuku yang tidak mengenali siapapun. Aku berbisik “Ikhlaskan, Bu” hanya kata itu yang mampu mewakili sejuta kata dalam pikirku untuk menguatkan ibuku. Ingin aku berteriak dan menangis. Ayah bukankah ayah berjanji hari ini kita akan merayakan ulang tahunku? Dan mana hadiahku, Yah?” Lagi-lagi aku berdialog dengan batinku sendiri. Tidak bisa aku menangis didepan ayahku, karena aku tahu ayahku tidak suka jika aku menangis. Dengan sisa-sisa tenaga ibuku berdiri, menopang badannya mengikuti rombongan itu, namun badan lemah itu kembali tersungkur ‘’menghantarkan ke tempat yang tenang, sepertinya aku tidak sanggup” lirih hati ibu.


Senja itu ayahku tiada, bulir putih tidak kusadari jatuh dari mataku “Maaf Yah, biarkan aku menangis kali ini saja”, lirihku. Perlahan rombongan itu mengecil hilang di ujung jalan depan rumahku bersamaan dengan pelayat yang mengikuti. Hujan turun, seakan ia tahu kesedihan keluargaku.  Biasanya senja aku jadikan waktu bersendau gurau dengan ayah, tapi hari ini, senja ini, menjadi senja terkelam yang pernah kutemui. Ya, senja perpisahan.

Creator : Ronauli Pulungan

0 komentar:

Post a Comment