Friday, April 21, 2017

BATAM vs RIAU

Pesawat akan lepas landas beberapa menit lagi, Ofi mendapat kursi disamping jendela pesawat, ini adalah posisi duduk favorit Ofi. Karena ia bisa berhalusinasi sambil melihat ke luar jendela pesawat, memikirkan hal-hal yang mungkin ataupun yang tidak mungkin terjadi di dunia ini. Misalnya, seperti bertemu dengan mantan-mantannya dalam sebuah pertemuan private yang sengaja ia buat, atau hanya sekedar bisa terbang dimalam hari dibawah bintang-bintang sambil melihat mantan-mantan terlelap di kamar mereka masing-masing. Semua hanyalah halusinasi yang sering ia kembangkan menjadi hal-hal yang kacau, sesuatu yang tidak akan pernah jauh-jauh dari masa lalu atau mantan.
 VS 


 Perjalanan kali ini akan berlangsung selama kurang lebih 50 menit. Hati Ofi masih terasa deg-deg an, dilengkapi ia harus berpisah dan meninggalkan sahabat-sahabatnnya dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan. Rasa cemas, galau, gundah, gagal move on masih merayap-rayap di hati dan fikiran Ofi. Move On adalah hal yang paling Ofi benci, namun ia harus. Tidak ada yang aneh dengan kehidupan Ofi, hanya saja kadang ia terlalu aneh dalam menghadapi suatu masalah. Hal yang seharusnya serius menjadi sebuah lelucon, dan begitu sebaliknya. Jadi, tidak banyak yang mengerti keadaan psikis Ofi. Hanya GF (Gold Friends) yang mungkin selalu berusaha untuk mengerti akan kelabilan yang ia miliki. 
Dari balik jendela pesawat, ia bisa melihat lautan awan yang luas, dilengkapi dengan awan lumba-lumba, awan gunung dan gumpalan-gumpalan awan lainnya. Semua terlihat sempurna jika dilihat dari hati dan imajinasi. Mood Ofi hari itu cukup baik untuk menghadapi sebuah perubahan yang akan ia temui. Sehingga senyum dari balik bibir nya selalu terlihat jika diperhatikan secara seksama. Ofi mengeluarkan Headphone , berniat untuk mendengarkan music selama dalam perjalanan, agar tidak terasa terlalu membosankan. Mood adalah sesuatu yang sangat penting bagi Ofi, karena ia hanya akan bergerak jika mood nya baik, begitu sebaliknya. Seperti telah di program oleh sang mood untuk mengikutinya apapun ia mau.
Beberapa menit Ofi tenggelam dalam lamunannya tentang awan, hingga tiba-tiba pesawat mulai bergoyang seperti menabrak sebuah gumpalan awan yang cukup besar, Ofi dan penumpang lainnya masih tetap tenang karena hal ini biasa terjadi. Sejurus kemudian alarm dari pramugari mulai berbunyi, tanda untuk menggunakan sabuk pengaman dihidupkan, sebuah sumber suara memberi tahu bahwa pesawat saat ini tengah kekurangan oksigen, sehingga para penumpang dianjurkan untuk bersiap-siap menggunakan kantung oksigen apabila nanti diturunkan secara otomatis.
Ofi juga terlihat sedikit panik, namun ia lebih percaya pada Tuhannya ( Allah) , sambil berdo’a dan pasrah, Ofi mengikuti apa-apa yang dianjurkan oleh pramugari. Beberapa kali pesawat tersebut menabrak awan dan berguncang cukup dahsyat, beberapa orang tidak sadar dengan situasi ini karena sebagian mereka sudah terlelap dengan mimpinya. Ofi hanya bisa pasrah, karena ia tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya mengikuti instruksi dari pramugari.
Anehnya, Ia malah  memikirkan hal-hal yang ia takutkan setibanya ia di Batam nanti, diantaraya :
Bagaimana kalau nanti setibanya di Batam, Ofi tidak benar-benar mendapat beasiswa tersebut?? Apakah ia harus kembali ke Riau??”
“Kalaupun benar ia diterima, bagaimana dengan mimpinya untuk kuliah di salah satu Universitas terbaik di Jawa? Apa ia harus mengurungkan niatnya begitu saja ??”
“Bagaimana kalau sesampainya di Batam, ia tidak bertemu dengan orang-orang baik?”
“Bagaiman dengan keluarganya di Riau, secara dia adalah anak satu-satunya di keluarga itu?”
“Bagaimana dengan GF, apakah mereka akan tetap bersama walau jauh?”
“Bagaimana dengan Yua, apakah ia akan tetap tersenyum tanpa gue?”
Serentetan pertanyaan sederhana berputar-putar di kepala Ofi, meskipun saat keadaan pesawat sedang tidak aman, ia tetap bermain-main dengan logikanya yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan Albert Einstein.
Beberapa menit kemudian, keadaan pesawat kembali normal, Ofi masih asik dengan HeadPhone nya. Tanda sabuk pengaman telah dimatikan, tidak ada hal aneh yang terjadi pada pesawat itu, hanya saja hujan mulai turun. Pesawat akan mendarat beberapa menit lagi , dan dalam hitungan menit pula Ofi akan memulai kehidupan barunya. Jantung Ofi semakin deg-deg an. Pramugari menyuarakan untuk menggunakan sabuk pengaman dan menegakkan sandaran kursi.
Getaran pesawat saat mendarat begitu terasa sehingga Ofi merubah posisi duduknya karena terbawa oleh gaya tarik dari badan pesawat yang dinaikinya. Sejurus kemudian, pesawat mulai berjalan pelan, ini menandakan bahwa pendaratan telah dilewati dengan sempurna. Disatu sisi Ofi merasa lega, disini lain Ofi mulaii cemas. Ia harus menetap di kota ini dalam beberapa tahun ke depan. Ia harus melupakan Fadly, ia harus berpisah dari sahabat-sahabat terbaiknya, ia harus berpisah dengan kedua orang tuanya. Ia harus melupakan semua tempat-tempat istimewanya di Riau.
Pesawat telah berhenti, semua penumpang bersia-siap untuk keluar, mengambil barang-barang dan mengantri satu sama lain. Ofi masih duduk di kursinya, menunggu antrian dan keramaian itu memudar. Ia hanya melihat para penumpang yang tidak sabar untuk keluar, karena lelah berlama-lama di pesawat tersebut. Ofi kemudian menghidupkan HP nya, melihat ke layar hp dan menunggu keadaan signal hp nya pulih. Tidak berapa lama setelah itu, beberapa pesan masuk, ternyata itu dari teman ayah Ofi yang bersedia untuk menjemputnya di bandara kali ini.
Fi, nanti kalau sudah sampai bandara, telfon bapak, ya.
Kira-kir begitu bunyi pesan tersebut. Ofi mulai membukan kontak di hp nya lalu menelfon seseorang setelah keluar dari pesawat.
Iya, pak. Saya sudah sampai di bandara, jemput sekarang ya, pak”
Begitu Ofi berucap, kemudian memasukkan hp nya ke dalam saku celananya, lalu memperbaiki sandangan tas ransel yang ia bawa.
Sepanjang perjalanan menuju keluar bandara, tatapan Ofi masih kosong, tidak ada yang menarik perhatiannya kali ini, tidak ada yang membuatnya bersemangat. Kali ini pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benakknya diabaikan begitu saja. Ia masih mengingat sosok Fadly, seorang laki-laki yang telah membuatnya dingin membatu selama beberapa tahun terakhir. Semenjak putus dari nya, Ofi tidak seceria dulu. Ada yang ia sembunyikan dibalik tawanya, ada yang berusaha dia hapus dibalik langkah-langkahnya. Begitu juga dengan keputusannya kali ini, move place mungkin akan sedikit membantu meringankan kepalanya untuk menghapus Fadly.
Batam adalah pilihan terbaik baginya saat ini, agar tidak larut dalam kenangan-kenangan masa lalu nya. Ofi hanya berusaha maju disaat sebuah tempat yang bernama hati tidak bisa menerima nya lagi, dipaksa untuk mencari pelabuhan baru, padahal itu tidak semudah yang ia bayangkan selama ini. Apa jadinya jika seseorang yang mempunyai kinerja otak kanan yang sangat baik akan sebuah kenagan, tidak bisa melupakannya begitu saja dengan mudah?? Bagaimana mencari sebuah penyeimbang, ketika penyeimbang yang lama tidak sepadan dengan yang baru. Tetapi itulah manusia, tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya. Begitu juga dengan tempat, Batam dan Riau adalah dua hal yang berbeda. Keduanya mempunyai keindahan dan kelebihan masing-masing, saling melengkapi untuk dimasukkan ke dalam sebuah peta.

0 komentar:

Post a Comment