Thursday, February 16, 2017

BARTER!

         
Sumber Gambar : http://www.esuhai.com/news/3DA87/Dieu-Ky-Dieu-Cua-Cho-Di-Va-Nhan-Lai.html
Pesawat siang itu akan berangkat pada pukul 14:30 WIB, Ofi mengangkat koper dan tas-tas yang dia bawa dari rumahnya. Siang itu, cuaca terasa sangat panas, sinar matahari masuk melalui jendela kamar yang Ofi tempati, hati Ofi terasa berdebar karena ia baru saja mendapat kabar gembira. Untuk beberapa jam kedepan ia akan beradaptasi dengan lingkungan baru, dengan wajah-wajah baru dan kehidupan baru bahkan mungkin ia akan  bertemu dengan spesies baru yang menyamar jadi manusia dan bisa melayang-layang diudara, entahlah. Afrina dan Heru membantu Ofi mengangkat koper dan tasnya ke mobil, mereka akan mengantar Ofi hingga bandara Sultan Syarif Kasim II.
Dedaunan siang itu terlihat sangat hijau, halaman rumah Afrina sangat rapi, rerumputan telah di pangkas hingga terlihat seperti karpet hijau yang lembut dan menentramkan hati yang telah lama kosong, ditambah gagal move on, seolah-olah Ofi bisa guling-guling imut lalu menggelepar disepanjang rerumputan itu. Semalaman Ofi menginap dirumah Afrina sekaligus melepas rindu karena telah lama tidak bertemu. Afrina sekarang tinggal di kota Pekanbaru, 3 jam perjalanan dari rumah Ofi. Cukup jauh memang kalo ditempuh dengan kaki manusia, sayangnya Pemerintah Pekanbaru belum menyediakan lapangan khusus untuk parkiran elang atau naga, jadi dengan berat hati, Ofi terpaksa naik mobil dari kotanya ke Pekanbaru. Sedangkan naga dan elang terbang yang telah ia pelihara selama ini dimasukkan kembali ke dalam telur sebelum siap untuk di tetasin lagi. Kaya di film pokemon gitu.
Afrina, Heru dan Yua adalah 3 sahabat Ofi sejak mereka duduk di bangku SMA. Persahabatan yang konyol dan tidak ada kejelasan kapan mereka terbentuk ini, telah berjalan selama kurang lebih 3 tahun. Seperti HTS (Hubungan Tanpa Status) yang lagi ­ngetrend-ngetrend nya di kalangan remaja zaman sekarang. Padahal secara harfiah, seorang wanita itu butuh kejelasan, tetapi diantara 3 wanita yang tergabung dalam komplotan persahabatan ini tidak ada yang menuntut kejelasan dari seorang Heru. Atau jangan-jangan ……… (isi sendiri)
Hanya saja kali ini Yua tidak ikut mengantar Ofi ke bandara karena urusan pekerjaan. Setelah lulus SMA, Yua memutuskan untuk bekerja karena keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih serius, maksudnya kuliah bukan nikah.
“Udah semua kan Fi?? Ga ada yang tinggal kan ??” Tanya Afrina sambil menunggu di pintu mobil.
“Kayanya gak deh Fin” Sahut Ofi.
“Yaudah , ayo kita berangkat.. ntar lo ketinggalan pesawat lagi Fi, lagian kita belum grouvie  kan selama lo disini” Nada Heru meyakinkan Ofi untuk bergegas masuk ke dalam mobil. Karena grouvie atau selfie hukumnya fardhu ‘ain (wajib) bagi anak-anak zaman sekarang, terlebih apabila bisa menggunakan efek-efek sexy lips dan bikin daun-daun yang sejatinya berwarna hijau menjadi biru. Gemes tapi geli.
“Yok!!” Ofi masuk ke dalam mobil.
Mobil Heru melesat dengan santai menuju bandara, mereka sengaja berangkat lebih awal agar bisa menikmati kebersamaan selama mereka berada di bandara nanti. Jarak dari rumah Afrina ke bandara tidak terlalu jauh, sehingga tidak butuh waktu lama untuk sampai ke bandara.  Siang itu Heru mengemudikan mobilnya dengan lincah,ia menggunakan baju kaos kemeja abu-abu dan celana levis hitam, sayangnya paparan ini tidak bisa dilantunkan untuk menceritakan sempak apa yang di pakai Heru saat itu, Heru menekan pedal gas dan rem mobil dengan penuh kasih sayang. Afrina duduk di samping Heru sedangkan Ofi duduk di belakang seperti joki tri in wan.
“Eh, menurut lo, berita tadi beneran gak?” Ofi membuka pembicaraan.
“Lah.. yang dapet kabar kan elo,Fi bukan kita, menurut lo gimana??.” Sahut Heru
“Semoga aja beneran,Fi.” Harap Afrina.
“Aamiin”  Heru dan Ofi serempak.
Meskipun Ofi sudah mendapat kepastian tentang “Sebuah Berita” yang baru ia dengar siang itu, hatinya tetap saja belum percaya, fikiran Ofi melayang-layang entah kemana. Berandai-andai dengan sejuta imajinasi yang ia punya.  Mobil Heru baru saja melewati  lampu merah pertama sebelum ke bandara. Ada 3 kali lampu merah yang harus mereka lewati sebelum sampai ke bandara.
“Eh, tapi lo kalo disana harus hati-hati ya Fi, denger-denger disana itu banyak orang jahat. Ntar kalo lo digangguin orang, lo panggil nama gue 3 kali. Lo teriak-teriak histeris aja kaya di sinetron-sinetron gitu..” Heru mulai ngelantur.
“Heuuu… Emangnya kalo gue diapa-apain,trus nyebut nama lo 3 kali bakalan lari tuh penjahat?? Yang ada malah gue dikira lagi latihan topeng menyetan” Ofi mulai sewot.
“Hahahah…Siapa tau mereka takut sama Babang Heru yang tamvan  ini. Heheh. “  Kekeh Heru.
“Lo fikir lo buto ijo gitu bisa ditakutin orang. Kutu aja kalo ngeliat lo ga bakalan takut, malah lo yang diajakin tawuran sama tuh kutu. Dasar kutil kadal !! ” Ofi ngeledek sebel sambil melihat ke kaca spion mobil bagian dalam.
“Hahahah. Udah .. yang penting kalo kemana-mana tah jangan sendirian,Fi. Bawa temen” Afrina memberi nasehat sambil berselfie ria di dalam mobil.
“Bener juga tuh omongan lo Fin, ntar gue cari temen hati deh kalo udah nyampe sana trus move on deh dari Fadly” Mata Ofi mulai berbinar-binar.
“yahhh… kumat lagi deh baper nya, dikit-dikit Fadly, dikit-dikit Fadly,, di amah udah ke laut keleusss.” Air liur Heru berhamburan kemana-mana saking sebel nya denger nama Fadly (mantan Ofi).
“hahahah.. Lo udah berapa lama sih jomblonya?? Miris banget kayanya, ato lo butuh gue iklanin di Koran gitu biar ga jones lagi??” Gelak tawa mulai memenuhi seisi ruang mobil.
10 menit berlalu, Afrina, Ofi dan Heru sampai di Bandara. Ofi masih punya waktu sekitar 1 jam lagi sebelum check in. Mereka memilih memanfaatkan waktu untuk makan di sebuah restoran fast food yang berada tidak jauh dari tempat check in.
Ofi memesan paket hemat yang paling sering ia beli jika makan di restoran ini, sedangkan Fina dan Heru membeli paket hemat lainnya. Setelah menunggu selama 5 menit, mereka mendapatkan apa yang mereka pesan. Wajah-wajah lapar nan buas sudah terlihat jelas dari ketiga anak manusia ini. Heru mulai mengoyak-ngoyak paha dan kulit ayam yang dia pesan, Afrina mengaduk-ngaduk saus sambel yang dia ambil ke nasi sedangkan Ofi melumat habis tulang-tulang ayam yang terasa lembut di taringnya. Jika dilihat dari kejauhan, 3 anak ini seperti burung pemakan bangkai yang sudah puasa selama satu minggu berturut-turut, tidak bisa minum teh es dan tersesat di Afrika Utara.
“Eh, Fi, menurut lo persahabatan kita ini akan bertahan berapa lama?” Afrina membuka pembicaraan sambil mengunyah nasi yang ia pesan.
“Ohokk..ohookk… air mana air ?? “ Ofi kocar-kacir mencari air mineral. Namun yang ia dapat hanya air soda gembira yang meletup-letup diudara, mau tidak mau ia seruput air itu tanpa menaati rambu lalu air.
“Lo kok nanya nya gitu sih ?? Lo udah ga percaya lagi kita bakalan tetap bersama??” Ofi terlihat sedikit protes.
“Ya enggak sihh.. kan lo mau ke Batam nih, gue dan Heru disini,di Pekanbaru, sedangkan Yua juga beda kota dengan kita-kita. Jarak antara kita itu jauh banget loo Fi, gua takut aja ntar kita ………” Afrina mengungkapkan kecemasan yang ia rasakan.
“Udah,, kita ga boleh saling suuzon gini tau.. yakin aja, kita itu Gold Friends (nama geng persahabatan mereka)  yang ga bakal terpecahkan,sekalipun cuma karena jarak seupil gini” Heru mencoba menengahi permbicaraan mereka.
“Tapi kalo upil nya se gede upil lo kan sama aja,Ru!” Kecemasan Afrina meningkat 100 derajat Celcius setelah mendengar kata upil .
“Hahahaha… udah-udah.. mau jaraknya segede upil Heru, segede upil gue ataupun upil udan pun,kita jangan mau game over  sama yang namanya upil.” Ofi merasa bangga bisa menenangkan Afrina mengenai upil.
“Yeee.. lo fikir kita lagi main upil-upilan apah?!” Heru protes .
“Yang penting kan ada upilnya. Upil itu ibarat kiasan. Kiasan jarak antara kita” Ofi berdiri tegak sambil mengembangkan kedua tangannya seperti orang yang tengah berpuisi.
“Fi,, sadar Fii. Ini lagi di tempat umum loh, lo jangan gila disini!!! ” Muka Afrina tampak memerah karena beberapa pengunjung memperhatikan gerak-gerik Ofi dan meja tempat mereka duduk.
Setelah merasa kenyang, Fina dan Heru mengajak Ofi grouvie bareng di depan tulisan “Sultan Syarif Kasim II” . Fina mempersiapkan alat selfie beserta tongsis dan mencari-cari arah cahaya dan sudut pandang yang bagus untuk berfoto ria. Setelah merasa pas dan mantap, aksi pun mulai dijalankan. Aneh nya,sebagai seorang laki-laki,Heru paling bersemangat dalam melaksanakan misi unreachable ini.
“Satu .. Dua .. Tiga ..cekreekk,, cekrekkk”
Awalnya cara mereka bergrouvie masih terlihat normal, namun lama kelamaan kebinalan 3 manusia ini mulai terlihat disaat Heru mulai memanjat salah satu huruf dari tulisan “Sultan Syarif Kasim II” ini , orang yang berada di sekitar tempat itu melihat dengan perasaan iba, sebagian mereka mungkin berfikir “selamatkan mata gue dari adegan-adegan yang tidak senonoh ini,Tuhann!! OH TUHAANNN… TIDAAKK!!” , sebagian lagi berniat kuat untuk memanggil FBI, namun niat mereka urung karena ketidaksiapan mental lahir dan batin. Takut kalau kalau nanti Ofi memanggil naga atau elang yang ia pelihara selama berabad-abad lamanya. Lalu memakan semua penduduk Pekanbaru terkhusus menghancurkan bandara itu.
Aksi ini berhenti setelah salah seorang satpam menghampiri mereka dan mengayunkan tongkat sakti nya, apa boleh buat, nasi telah menjadi beras, beras telah menjadi padi, padi dimakan sapi, dan sapi melahirkan anak sapi. Ofi, Afrina dan Heru langsung mengambil inisiatif brilian untuk lari dan masuk ke dalam kerumunan orang ramai. Aksi kejar-kejaran itu tidak berlangsung cukup lama karena Gold Friends telah di latih TNI untuk hal-hal semacam ini, apalagi hanya untuk masalah kecil seperti ini. Latihan ini sudah dimulai saat mereka masih berupa embrio imut nan lucu dan menggemaskan.
Mereka menghela nafas setelah melihat satpam tersebut tidak menemukan jejak mereka, Ofi bersyukur hari ini tidak ada salju di bandara Pekanbaru ini, sehingga jejak kaki mereka tidak bisa dilacak oleh satpam tersebut.
“Gila tu satpam, galak bener!! Untung aja kita bisa lolos, kalo ketangkep, pasti malu” Afrina menghela nafas panjang.
“Hahah, gue suka adegan-adegan seperti ini, berasa jiwa anak-anak dan persahabatan kita tumbuh lagi” Ofi tertawa sambil mengatur nafas.
“Iyaa, gue seneng kita bias gila-gilaan kaya gini lagi “ sahut Heru.
Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB, mau ga mau , Heru dan Afrina harus mengantar Ofi ke gerbang check in . Mereka berjalan normal seperti orang pada umumnya, seperti tidak ada masalah apapun. Heru yang sedari tadi menggenggam ganggang koper Ofi, menyerahkan koper itu ke empunya.
“Kita bakalan pisah disini ya?? “ Heru memastikan kepergian Ofi.
“Yaiyalaaaa.. katanya kita mau jadi anak-anak yang sukses, yaa harus berani berkorban” Ofi mengambil kopernya dari tangan Heru.
“Tapi ntar kalo lo jadi lupa sama kita-kita gimana?” Heru terlihat tidak rela Ofi pergi ke luar kota.
“Lo percaya kan?? Kita punya mimpi sendiri-sendiri yang wajib kita wujudkan, kita ga mungkin terus stuck di satu tempat sedangkan impian yang berani kita buat lebih gede dari diri kita sendiri. Gue ga mungkin ngelupain orang-orang terhebat dalam hidup gue, kita udah barengan selama beberapa tahun loo, dan kalian kenal sama gue ga Cuma sehari ato dua hari doing kan ?? kita harus saling percaya. Kita ini anak-anak yang di ciptakan untuk kuat” Jawab Ofi meyakinkan.
“Yaudah, lo hati-hati ya,Fi. Jaga diri baik-baik selama lo disana.” Afrina memeluk Ofi.
“Oke , gue percaya kok,Fi. Lo hati-hati ya” Heru menjabar tangan Ofi sambil tersenyum.
3 sahabat itu berpisah didepan pintu masuk check in, Ofi melangkah melewati pintu checkin,melewati pintu pemeriksaan petugas bandara, lalu mengambil tiket dan segera menuju ke ruang tunggu, sedangkan Afrina dan Heru melihat dari luar hingga Ofi naik escalator bandara. Ofi melempar senyum pada kedua sahabatnya, begitu juga dengan Afrina dan Heru. Waktu terasa cepat berlalu bagi 3 anak yang beranjak dewasa ini.
Mengenai kabar yang Ofi dapat siang itu, ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Batam, semua biaya kuliah dan uang saku ditanggung. Ofi mengambil jurusan Teknik Multimedia dan Jaringan. Ofi, Afrina, Yua dan Heru adalah tiga anak brokenhome yang mencoba untuk bangkit ditengah gencarnya senjata “perceraian”. Sehingga mereka harus berjuang mandiri untuk meraih apa yang mereka gambar dalam kertas kehidupan.

Heru dan Afrina kembali ke rumah, satu hal yang mereka pelajari, bahwa untuk mendapatkan apa yang mereka mau, mereka harus menukarkan nya dengan salah satu apa yang mereka punya, istilah zaman dahulunya yaitu “Barter” (menukarkan barang dengan barang). Sama seperti apa yang sedang mereka alami saat ini, mereka harus rela mengorbankan kebersamaan mereka untuk meraih kehidupan yang lebih baik, memulai dunia baru, ditempat yang baru, dengan orang-orang baru. Tidak peduli seberapa lama barteran ini akan berlalu, yang jelas mereka harus tetap yakin alias percaya bahwa hasil itu tidak akan menghianati proses, begitulah kata pepatah. Lakukan saja yang terbaik yang bisa dilakukan selama hal itu bisa bermanfaat untuk orang-orang sekitar. (df)

TO BE CONTINUED .......

0 komentar:

Post a Comment