Friday, May 13, 2016

Menilik Wajah Pendidikan Indonesia


Awal bulan Mei ini, kita terhenyak dengan 3 kasus pembunuhan sadis yang terjadi di Indonesia. Kasus ini menjadi pembicaraan banyak pihak mulai dari politisi, ahli hukum, aktivis hingga masyarakat awam. Bahkan apabila kita memasukkan kata kunci “pembunuhan” di Google Search, maka ketiga kasus ini berada urutan teratas. Pemberitaan ini bahkan masih bertahan dalam beberapa hari dan akan terus berlanjut seiring penyelidikan dan penyidikan terduga tersangka.

Ketiga kasus itu adalah kasus pembunuhan dan pemerkosaan seorang siswi SMP, Yuyun, oleh 14 orang di Bengkulu. Kemudian kasus pembunuhan dosen, Nuraini Lubis oleh mahasiswanya sendiri di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Terakhir kasus yang cukup menggemparkan penduduk Batam, pembunuhan Feby Kurnia, seorang mahasiswi Universitas Gadjah Mada yang dibunuh oleh cleaning service kampus.

Latar pembunuhan ketiga kasus tersebut berbeda – beda, kasus Yuyun, diduga karena pembunuh – pembunuh dalam keadaan mabuk. Kasus Nuraini Lubis diduga karena dendam masalah nilai. Sedangkan kasus Feby Kurnia, karena masalah uang. Pembunuhan yang sangat tidak manusiawi itu sangat menyedihkan apalagi melihat alasan - alasan pelaku yang tidak masuk akal.

Semakin menyedihkan karena ketiga kasus tersebut berkaitan dengan dunia pendidikan sehingga menodai hari pendidikan. Hari pendidikan yang seharusnya merupakan hari peringatan sekaligus pengharapan kualitas pendidikan Indonesia semakin baik justru “dihadiahi” oleh ketiga kasus mengerikan itu. Pendidikan seolah – olah tidak mampu mencegah terjadinya ketiga kasus tersebut.

Mengapa seharusnya pendidikan dapat mencegah terjadinya ketiga kasus tersebut? Pendidikan adalah sebuah proses untuk mengubah manusia menjadi lebih baik, dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa. Orang tua atau guru kita pasti pernah mengajari apa itu yang baik dan buruk, apabila kita mengerjakan sesuatu apa balasannya dan lain – lain. Itulah mengapa pendidikan dapat mencegah seseorang melakukan perbuatan buruk.

Namun faktanya, ketiga kasus itulah yang terjadi. Padahal salah satu kasus itu dilakukan oleh orang yang sedang mengenyam pendidikan tinggi. Ternyata, tindakan yang dia lakukan sama dengan pelaku – pelaku kasus lainnya yang berpendidikan rendah. Sarkasmenya adalah sekolah atau tidak sekolah perilakunya sama saja di Indonesia.

Padahal apabila kita membandingkan negara – negara maju di dunia yang memiliki banyak lulusan pendidikan tinggi memiliki angka kriminalitas yang sangat kecil. Misalnya Islandia, Swiss, Singapura dan Selandia Baru. Rata – rata kasus kriminalitas di sana sangat kecil.

Jika kalian tidak setuju dengan itu karena negara – negara maju memiliki jumlah penduduk lebih sedikit bila dibandingkan di Indonesia maka dasar itu sangat tidak masuk akal. Karena tidak akan ada yang berani meninggalkan rumahnya dalam keadaan tidak terkunci di Indonesia misalnya saja di Batam yang penduduknya lebih sedikit bila dibandingkan Singapura. Jadi, jelas ada pembeda antara Indonesia dengan negara – negara maju lainnya salah satunya pendidikan.

Lalu mengapa moral dan pemikiran hasil dari pendidikan di Indonesia seolah – olah sama dengan mereka yang kurang mendapatkan pendidikan? Apa yang salah? Salah satu penyebabnya adalah kurangnya bimbingan orang tua.

Harus diakui, banyak orang tua tidak siap di Indonesia. Mereka tidak tahu betapa sulitnya membangun keluarga yang berkualitas. Kebanyakan mereka menikah dengan modal cinta dan bahkan nafsu belaka. Faktanya, banyak sekali di lingkungan kita orang tua yang tidak mampu tapi memiliki anak lebih dari 2 orang. Anak – anaknya? Tentu saja terlantar dan bergaul dengan orang – orang tidak jelas.

Keluarga adalah tempat pertama kali bagi si anak mengenyam pendidikan. Mendidik seorang anak bukanlah seperti membalikkan telapak tangan. Pendidikan yang diberikan kepada si anak juga tidak begitu saja diserap dengan mudah. Butuh proses yang sangat panjang bahkan hingga si anak beranjak remaja.

Model kebanyakan orang tua di Indonesia adalah si ayah bekerja keras siang dan malam dan menganggap tugas merawat dan membimbing anak adalah Ibu. Sedangkan si Ibu sibuk membereskan rumah dan mengurus anak. Kalau sudah capai anak disuruh tidur siang, menonton televise atau main diluar tanpa bimbingan orang tua. Jadi, kebanyakan peran membimbing anak justru lebih banyak dari sekolah daripada dari orang tua.

Pemerintah hendaknya lebih giatkan lagi sosialisasi – sosialisasi yang berhubungan dengan keluarga. Bagi yang  sudah berkeluarga, seriuslah dalam membimbing anaknya dan jaga dia dari lingkungan yang buruk. Bagi calon orang tua, pikirkan lagi secara serius sebelum kalian menikah apakah sudah siap secara fisik dan mental untuk menjadi orang tua.

Selanjutnya inovasi dan kreativitas di bidang pendidikan. Sejak dulu hingga sekarang kualitas dan model pendidikan di Indonesia hampir sama saja bahkan cenderung menurun. Jika dulu Indonesia mampu menjadi model pendidikan bagi negara – negara di Asia Tenggara, sekarang Singapura dan Malaysia yang menjadi modelnya. Inovasi dan krativitas tenaga pengajar itu sangat penting karena mereka akan menjadi model teladan bagi murid – muridnya.

Tenaga pengajar di Indonesia kebanyakan bekerja dengan setengah hati dan bukan tulus memberikan pendidikan bagi murid – muridnya. Mungkin, salah satu faktornya adalah untuk mengejar status PNS yang menjadi idaman setiap orang karena kehidupannya terjamin. Jadi, pendidikan instan dan tidak menyentuh hati muridnyalah hasilnya.

Pemerintah perlu memperketat seleksi bukan hanya dari tes – tes yang diberikan. Salah satunya psikologi si calon pengajar. Kemudian kualitas kurikulum pendidikan, terus ditingkatkan khususnya pendidikan moral, sosial, agama dan lingkungan. Pemerintah juga dapat melatih guru – guru untuk membuat suasana belajar yang aplikatif dan mampu diserap dan dihayati oleh murid – murinya.

Harapan kita di momen hari pendidikan ini adalah, tidak ada lagi korban – korban dari keberingasan, kebodohan, dan sikap barbar akibat randahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Perlu pemikiran yang serius dari seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan bangsa yang lebih baik. Pendidikan itu layaknya “air” yang menghancurkan “batu” simbol dari kebodohan, butuh waktu yang lama untuk menghancurkannya. “Air” itu dapat menghilangkan dahaga ketika diminum, tetapi hanya yang jernih, bersih, dan sucilah yang dapat diminum. (B)

sumber gambar : http://majalah1000guru.net/2015/05/pendidikan-menaikkan-derajat/

0 komentar:

Post a Comment