SHARING BERSAMA KRU LPM KETIK POLIMEDIA JAKARTA

Sharing bersama salah satu KRU LPM Ketika Polimedia

BARELANG ROBOTIC TEAM RAIH JUARA I KRSBI 2016

Tim robot Politeknik Negeri Batam, Barelang Robotic Team berhasil meraih juara 1 kategori KRSBI (Kontes Robot Sepak Bola Indonesia) dalam KRI (Kontes Robot Indonesia) 2016

LPM PARADIGMA TEMU DAN SHARING BARENG KRU BARU

LPM Paradigma menggelar temu dan sharing bersama kru baru di lapangan Harmoni kampus Polibatam

MEMPERINGATI HARI BUKU, BEM dan ATAP MERAH GELAR DISKUSI TERBUKA

EM Polibatam bersama Atap Merah menggelar diskusi terbuka bertemakan “MUAK (Membaca Untuk Angkat Kejayaan) Dengan Buku”, Rabu (18/5) di lobi kampus.

Friday, May 27, 2016

KuAS Adakan Pagelaran Seni Untuk Peringati Tragedi Mei ‘98


Wapresma Intan Ika saat membacakan puisi pada pagelaran seni KuAS
LPM Paradigma, Batam – UKM KuAS (Kumpulan Anak Seni) menggelar pagelaran seni di lobi kampus Polibatam, Jumat (27/5) pukul 17.00 WIB. Kegiatan ini digelar untuk memperingati peristiwa Mei 1998. Adapun pagelaran ini diisi penampilan dari beberapa ormawa Polibatam baik berupa puisi, teater hingga vokal. Selain itu ada juga pameran puisi hasil tulisan tangan mahasiswa Polibatam.

“Acara ini kita adakan untuk memperingati tragedi yang terjadi di bulan ‘Mei 98. Harapannya agar mahasiswa mengingat dan mengenang  peristiwa tersebut.” ujar Santa salah satu panitia kegiatan tersebut.

Bahkan, Wapresma (Wakil Presiden Mahasiswa) BEM Polibatam, Intan Ika juga turut berpartisipasi dalam acara tersebut dengan menampilkan pembacaan puisi. Intan juga berujar kalau kegiatan tersebut sangat bagus untuk menyalurkan bakat mahasiswa Polibatam.


“Kegiatan seperti ini sangat bagus untuk menyalurkan bakat terpendam mahasiswa Polibatam. Saya sendiri juga menyukai acaranya. Namun yang disayangkan peminatnya agak sepi.” Ucapnya.

Friday, May 20, 2016

Memperingati Hari Buku, BEM & Atap Merah Gelar Diskusi Terbuka

Suasana Diskusi Hari Buku Nasional (18/5)
LPM Paradigma, Batam – BEM Polibatam bersama Atap Merah menggelar diskusi terbuka bertemakan “MUAK (Membaca Untuk Angkat Kejayaan) Dengan Buku”, Rabu (18/5) di lobi kampus. Diskusi ini digelar bertujuan untuk memperingati Hari Buku Nasional yang jatuh sehari sebelumnya.

Kegiatan yang dimulai pukul 17.00 WIB tersebut berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan yang dilontarkan MC kepada masing-masing ketua ormawa Polibatam dijawab dengan lugas. Salah satunya yaitu jawaban ketua IMMPB, Syifa Dzikri ketika ditanyai MC mengenai pentingnya buku dalam sebuah peradaban.

“Di dalam islam sendiri perintah yang pertama kali turun adalah membaca. Oleh karena itu, buku sangat penting dalam sebuah peradaban.” Ujar Syifa Dzikri dengan lugas.

Diskusi tersebut berakhir seiring berkumandangnya azan maghrib. Kedepannya BEM dan Atap Merah berharap agar minat baca di kalangan mahasiswa Polibatam bisa meningkat.


“Dengan adanya acara ini, diharapkan kita tidak hanya sekedar tahu tentang Hari Buku Nasional, melainkan juga bisa meningkatkan minat baca mahasiswa Polibatam yang sekarang ini cenderung malas membaca.” Tutur Irfa’, salah satu kru Atap Merah (**)

Wednesday, May 18, 2016

BLM Gelar Jaringan Aspirasi Untuk Salurkan Suara Mahasiswa

Suasana Jaringan Aspirasi 1 (17/5)
LPM Paradigma, Batam – BLM bekerjasama dengan BEM dan LPM Paradigma mengadakan acara jaringan aspirasi 1. Jaringan aspirasi mahasiswa merupakan suatu wadah yang bertujuan untuk menampung segala aspirasi mahasiswa berkaitan dengan sarana dan prasarana kampus yang dapat mendukung kegiatan pembelajaran yang kemudian akan didiskusikan dengan pihak kampus untuk mendapatkan solusi. Acara ini disenggarakan pada hari Selasa (17/5) pukul 17.20 WIB- 18.15 WIB di lobi kampus Polibatam. Acara tersebut dihadiri oleh Hendra Gunawan selaku Wakil Direktur 1, Muslim Ansori selaku Wakil Direktur 2, dan Bambang Hendrawan selaku Kepala Bagian Akademik Kemahasiswaan.

            Sebelumnya, tanggal 10-11 Mei lalu BLM sudah menyurvei semua aspirasi mahasiwa dimana pihak BLM meletakkan papan sketsel di lobi kampus sehingga para mahasiswa bebas menuliskan aspirasinya. Beberapa aspirasi yang dibahas yaitu, peraturan merokok di kampus, wifi, tempat ibadah bagi umat Kristen dan fasilitas WC.

Mengenai ketegasan peraturan merokok di kampus, manajemen menyetujui jika nantinya diberikan sanksi/denda bagi para mahasiswa yang merokok di sembarang tempat di area kampus.

“Dari manajemen sendiri sudah menugaskan kepada security untuk menegur siapa saja yang merokok sembarangan.” Ujar Muslim Ansori.

“Yang terpenting itu kesadaran kita bersama untuk saling mengingatkan satu sama lain.” Ucap Bambang Hendrawan.

Selain itu ada juga pembahasan mengenai tempat ibadah. Mahasiswa Polibatam yang beragama Kristen mengeluhkan karena ruangan mereka terlalu sempit sehingga kegiatan ibadah mereka menjadi terganggu.

“Memang dalam sebuah instansi pendidikan tidak ada anggaran untuk tempat ibadah. Kami akan mendiskusikan lebih lanjut agar kita dapat solusi terbaik.” Tutur Muslim Ansori.

Poin terakhir yang dibahas yaitu mengenai fasilitas WC putri di lantai 1. Dari 4 WC yang tersedia hanya 2 WC yang bisa digunakan, dan itu pun aliran airnya tidak lancar. Pihak kampus mengatakan bahwa akan segera memperbaiki kerusakan tersebut secepatnya mengingat WC merupakan bagian yang sangat di perlukan mahasiswa.

“Fasilitas WC ini sangat vital fungsinya di kampus kita ini. Oleh karena itu, kami akan segera memperbaiki permasalahan tersebut.” kata Muslim Ansori. (DP)


IMMPB Gelar Acara PENSIL 2B


LPM Paradigma, Batam IMMPB Polibatam  divisi SKQ (Seni & Kajian Qur'an) menggelar acara yang berjudul Pensil 2B(Pentas Seni Islam Bertabur Berkah). Acara ini di laksanakan pada hari Senin (16/5) pukul 17.00-21.00 WIB di Lobi kampus Polibatam. Pensil 2B ini merupakan acara  yang menampilkan seni-seni yang berkaitan dengan islami, seperti marawis, puisi, nasyid , teater dan qiro'ah. Kegiatan ini digelar memiliki dua tujuan yaitu agar semua civitas kampus lebih mengetahui apa saja seni islami itu sendiri, dan melakukan penggalangan dana untuk pembangunan masjid.

Acara yang juga dihadiri oleh pembina IMMPB, Budi Sugandi dan Ari Wibowo selaku Pudir 3. Untuk pengisi acara dalam pensil 2B ini tidak hanya dari pengurus IMMPB. Pihak IMMPB  sebelumnya sudah melakukan open recruitment kepada seluruh ormawa yang ingin menjadi pengisi acara dalam acara tersebut. Pembukaan acara tersebut di awali dengan pembacaan qiroah, sambutan oleh Budi Sugandi selaku pembina IMMPB dan pembacaan do’a.  Setelah pembukaan acara, dilanjutkan penampilan dari para pengisi acara. Meskipun pada saat acara cuaca sedang hujan, akan tetapi acara ini berlangsung dengan sukses karena banyak penampilan yang menarik sehingga banyak mahasiswa yang menonton. Sebelum acara selesai, MC acara terlebih dahulu mengumumkan jumlah total dari hasil galang dana pembangunan masjid. Dengan diadakannya acara ini, diharapkan para mahasiswa lebih mengetahui berbagai jenis seni islami dan tertarik untuk mempelajarinya. (DP)


Friday, May 13, 2016

Menilik Wajah Pendidikan Indonesia


Awal bulan Mei ini, kita terhenyak dengan 3 kasus pembunuhan sadis yang terjadi di Indonesia. Kasus ini menjadi pembicaraan banyak pihak mulai dari politisi, ahli hukum, aktivis hingga masyarakat awam. Bahkan apabila kita memasukkan kata kunci “pembunuhan” di Google Search, maka ketiga kasus ini berada urutan teratas. Pemberitaan ini bahkan masih bertahan dalam beberapa hari dan akan terus berlanjut seiring penyelidikan dan penyidikan terduga tersangka.

Ketiga kasus itu adalah kasus pembunuhan dan pemerkosaan seorang siswi SMP, Yuyun, oleh 14 orang di Bengkulu. Kemudian kasus pembunuhan dosen, Nuraini Lubis oleh mahasiswanya sendiri di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Terakhir kasus yang cukup menggemparkan penduduk Batam, pembunuhan Feby Kurnia, seorang mahasiswi Universitas Gadjah Mada yang dibunuh oleh cleaning service kampus.

Latar pembunuhan ketiga kasus tersebut berbeda – beda, kasus Yuyun, diduga karena pembunuh – pembunuh dalam keadaan mabuk. Kasus Nuraini Lubis diduga karena dendam masalah nilai. Sedangkan kasus Feby Kurnia, karena masalah uang. Pembunuhan yang sangat tidak manusiawi itu sangat menyedihkan apalagi melihat alasan - alasan pelaku yang tidak masuk akal.

Semakin menyedihkan karena ketiga kasus tersebut berkaitan dengan dunia pendidikan sehingga menodai hari pendidikan. Hari pendidikan yang seharusnya merupakan hari peringatan sekaligus pengharapan kualitas pendidikan Indonesia semakin baik justru “dihadiahi” oleh ketiga kasus mengerikan itu. Pendidikan seolah – olah tidak mampu mencegah terjadinya ketiga kasus tersebut.

Mengapa seharusnya pendidikan dapat mencegah terjadinya ketiga kasus tersebut? Pendidikan adalah sebuah proses untuk mengubah manusia menjadi lebih baik, dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa. Orang tua atau guru kita pasti pernah mengajari apa itu yang baik dan buruk, apabila kita mengerjakan sesuatu apa balasannya dan lain – lain. Itulah mengapa pendidikan dapat mencegah seseorang melakukan perbuatan buruk.

Namun faktanya, ketiga kasus itulah yang terjadi. Padahal salah satu kasus itu dilakukan oleh orang yang sedang mengenyam pendidikan tinggi. Ternyata, tindakan yang dia lakukan sama dengan pelaku – pelaku kasus lainnya yang berpendidikan rendah. Sarkasmenya adalah sekolah atau tidak sekolah perilakunya sama saja di Indonesia.

Padahal apabila kita membandingkan negara – negara maju di dunia yang memiliki banyak lulusan pendidikan tinggi memiliki angka kriminalitas yang sangat kecil. Misalnya Islandia, Swiss, Singapura dan Selandia Baru. Rata – rata kasus kriminalitas di sana sangat kecil.

Jika kalian tidak setuju dengan itu karena negara – negara maju memiliki jumlah penduduk lebih sedikit bila dibandingkan di Indonesia maka dasar itu sangat tidak masuk akal. Karena tidak akan ada yang berani meninggalkan rumahnya dalam keadaan tidak terkunci di Indonesia misalnya saja di Batam yang penduduknya lebih sedikit bila dibandingkan Singapura. Jadi, jelas ada pembeda antara Indonesia dengan negara – negara maju lainnya salah satunya pendidikan.

Lalu mengapa moral dan pemikiran hasil dari pendidikan di Indonesia seolah – olah sama dengan mereka yang kurang mendapatkan pendidikan? Apa yang salah? Salah satu penyebabnya adalah kurangnya bimbingan orang tua.

Harus diakui, banyak orang tua tidak siap di Indonesia. Mereka tidak tahu betapa sulitnya membangun keluarga yang berkualitas. Kebanyakan mereka menikah dengan modal cinta dan bahkan nafsu belaka. Faktanya, banyak sekali di lingkungan kita orang tua yang tidak mampu tapi memiliki anak lebih dari 2 orang. Anak – anaknya? Tentu saja terlantar dan bergaul dengan orang – orang tidak jelas.

Keluarga adalah tempat pertama kali bagi si anak mengenyam pendidikan. Mendidik seorang anak bukanlah seperti membalikkan telapak tangan. Pendidikan yang diberikan kepada si anak juga tidak begitu saja diserap dengan mudah. Butuh proses yang sangat panjang bahkan hingga si anak beranjak remaja.

Model kebanyakan orang tua di Indonesia adalah si ayah bekerja keras siang dan malam dan menganggap tugas merawat dan membimbing anak adalah Ibu. Sedangkan si Ibu sibuk membereskan rumah dan mengurus anak. Kalau sudah capai anak disuruh tidur siang, menonton televise atau main diluar tanpa bimbingan orang tua. Jadi, kebanyakan peran membimbing anak justru lebih banyak dari sekolah daripada dari orang tua.

Pemerintah hendaknya lebih giatkan lagi sosialisasi – sosialisasi yang berhubungan dengan keluarga. Bagi yang  sudah berkeluarga, seriuslah dalam membimbing anaknya dan jaga dia dari lingkungan yang buruk. Bagi calon orang tua, pikirkan lagi secara serius sebelum kalian menikah apakah sudah siap secara fisik dan mental untuk menjadi orang tua.

Selanjutnya inovasi dan kreativitas di bidang pendidikan. Sejak dulu hingga sekarang kualitas dan model pendidikan di Indonesia hampir sama saja bahkan cenderung menurun. Jika dulu Indonesia mampu menjadi model pendidikan bagi negara – negara di Asia Tenggara, sekarang Singapura dan Malaysia yang menjadi modelnya. Inovasi dan krativitas tenaga pengajar itu sangat penting karena mereka akan menjadi model teladan bagi murid – muridnya.

Tenaga pengajar di Indonesia kebanyakan bekerja dengan setengah hati dan bukan tulus memberikan pendidikan bagi murid – muridnya. Mungkin, salah satu faktornya adalah untuk mengejar status PNS yang menjadi idaman setiap orang karena kehidupannya terjamin. Jadi, pendidikan instan dan tidak menyentuh hati muridnyalah hasilnya.

Pemerintah perlu memperketat seleksi bukan hanya dari tes – tes yang diberikan. Salah satunya psikologi si calon pengajar. Kemudian kualitas kurikulum pendidikan, terus ditingkatkan khususnya pendidikan moral, sosial, agama dan lingkungan. Pemerintah juga dapat melatih guru – guru untuk membuat suasana belajar yang aplikatif dan mampu diserap dan dihayati oleh murid – murinya.

Harapan kita di momen hari pendidikan ini adalah, tidak ada lagi korban – korban dari keberingasan, kebodohan, dan sikap barbar akibat randahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Perlu pemikiran yang serius dari seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan bangsa yang lebih baik. Pendidikan itu layaknya “air” yang menghancurkan “batu” simbol dari kebodohan, butuh waktu yang lama untuk menghancurkannya. “Air” itu dapat menghilangkan dahaga ketika diminum, tetapi hanya yang jernih, bersih, dan sucilah yang dapat diminum. (B)

sumber gambar : http://majalah1000guru.net/2015/05/pendidikan-menaikkan-derajat/

Sunday, May 1, 2016

Wartawan Sindo Batam Jadi Pemateri Diklat Jurnalistik LPM Paradigma

Sarma H.S, wartawan Sindo Batam saat menjadi pemateri diklat LPM Paradigma, Sabtu (30/4)

LPM Paradigma, Batam – LPM Paradigma kembali mengadakan Diklat Jurnalistik yang diadakan pada Sabtu (30/4) mulai pukul 09.30 WIB di RB Politeknik Negeri Batam. Pada diklat kali ini LPM mengundang Bang Sarma H.S., seorang wartawan dari harian Sindo Batam yang juga alumni LPM angkatan pertama sebagai pembicara. Diklat ini diikuti oleh para kru LPM Paradigma dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan anggotanya dalam dunia jurnalistik tingkat lanjut.

Acara berlangsung santai dengan berbagai penjelasan dari Bang Sarma mengenai tips–tips dalam melakukan wawancara dan penulisan berita. Diskusi berlangsung secara interaktif terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan dari kru. Bang Sarma juga memberikan tantangan kepada tim untuk menulis sebuah berita jenis straight pada sebuah kasus. Alhasil, tim sudah banyak yang bisa menyerap dengan baik tentang jenis berita seperti ini. Acara diakhiri dengan penyerahan plakat penghargaan dari sekretaris LPM Paradigma, Ema Lisdiana.

Harapan kita semoga LPM Paradigma semakin terdepan dan terpercaya dalam menyediakan informasi kepada mahasiswa dan civitas kampus khususnya dan bagi masyarakat pada umumnya. Pers kampus tak akan mampus! (BS)