Friday, January 2, 2015

Kesucian Penantian




KESUCIAN PENANTIAN

Pagi ini sepertinya tak seperti pagi kelabu yang lalu. Rona merah jambu telah menghiasi indah nya paras gadis berusia 35 tahun itu. Penantian nya dalam menjelajahi lautan cinta, akhirnya berlabuh pada sebuah pulau yang begitu mempesona. Pemuda yang tampan nan perkasa rekomendasi dari sang ulama, akhirnya menyandarkan kapal perjalanannya di pulau itu. Tak mau lagi membuat ke dua orang tua kecewa dengan kerewelan nya dalam memilih pasangan, ia langsung melontarkan “Ya pak Kiayi, saya mau di khitbah oleh Mas Farhan meskipun beliau hanya penjual kerupuk.” Ujar nya kepada Sang Kiyai dari pesantren di tempat ia mengajar. “Tapi apa kamu yakin dengan pilihan mu itu ndok. Farhan hanyalah orang biasa yang tidak mempunyai title khusus seperti yang lainnya. Dia hanya lulusan Madrasah atau setingkat dengan SMA.” Nasihat pak Kiayi. “Ekonomi, pangkat dan kedudukan bukan lah kebutuhan Sarah saat ini. Sarah hanya menginginkan lelaki yang dapat membimbing Sarah menggapai keridhaan-Nya. Lagi pula, sarah ndak mau membuat bapak dan ibu nunggu terlalu lama. Sarah ingin mereka melihat Sarah saat Sarah menjadi ratu sehari di tempat persandingan.” Jawab sarah. Mendengar ujaran Sarah seperti itu, Pak Kiayi hanya bisa mengikuti saja jika itu sudah menjadi pilihan yang terbaik bagi mereka.
Tanpa mau menunggu lama, Sarah beserta keluarganya mendatangi pesantren, di mana merupakan tempat Farhan tinggal dan mengaplikasikan ilmunya.
Setelah sampainya di pesantren, Sarah dan keluarga berbincang dengan Kiayi dan juga Farhan. Farhan begitu terkejut. Tak menyangka, ternyata ada seorang bidadari yang tertarik kepadanya. Meskipun ia telah memaparkan mengenai keadaan ekononi, ilmu dan pangkat, serta status duda karena telah di tinggal ke surga oleh istrinya. Sarah dan keluarga tak memperdulikan itu semua. Alhamdulillah, dengan persetujuan dari semua nya. Pernikahan akan dilaksanakan seminggu lagi.
Berita telah melebar, undangan telah tersebar, persiapan sudah kelar, hanya menunggu esok pagi akad nikah yang akan digelar. Keindahan pelangi takkan mampu menandingi senyuman Sarah yang begitu bahagia. Padanya, didunia ini hanya terlihat bunga-bunga yang bermekaran. Yang begitu harum bin wangi untuk dinikmati. Hanya gerakan bibirnya yang mengukir keindahan senyuman di wajahnya dalam melukiskan kebahagiaan. Penyakit jantung sang bapak terasa tertunda sementara melihat sang anak tersenyum dengan cerianya.
Jam dinding menunjukkan pukul 23.40 WIB. Permainan indah bintang dan rembulan seakan dihentikan oleh gumpalan awan hitam. Senyuman pelangi itu pun juga ikut meredup, bahkan tak terlihat sama sekali. Rona warna indah itu memudar dengan datang nya mobil petugas kepolisian. Membawa kabar yang lebih menghentak jiwa di banding gempa bumi. Lebih mengguyur deras derita dari tsunami. Hati yang begitu lebih meluap panas dari lahar gunung merapi. Farhan dikabarkan telah berpulang ke rahmat-Nya karena kecelakaan adu kambing antara mobil yang ia kendarai dengan mobil yang tak dikenal. 
Shock dan kaget. Seketika Sarah langsung jatuh pingsan. Para warga yang sedang membantu mempersiapkan untuk besok, seakan tak percaya dengan kabar duka itu. Salah satu dari mereka bergegas mencari Pak Mulyo untuk mengabari apa yang terjadi dengan putri dan calon menantunya.
Tak sanggup mendengar keadaan yang terjadi pada keluarganya, badan Pak Mulyo terjatuh ke tanah dan pingsan. Ternyata, rasa sakit penyakit jantungnya menghampiri lagi. Kembali bunyi sirine terdengar lagi. Namun berasal dari mobil ambulance yang akan membawa Pak Mulyo ke Rumah Sakit.
Inalillahi wainailaihirojiun. Pak Mulyo menyusul Farhan ke rahmatullah hanya berselang beberapa puluh menit dari kepergian sang calon menantu.
Hembusan angin ini seperti badai. Menyejukkan langsung menusuk dan mengobrak-abrik relung hati Sarah. Air mata telah membeku. Begitu sulit untuk mengalir. Untuk membalas keperihan hati. Jerit tangis nya terbungkam, tak mampu menceritakan keirisan hatinya.
Beberapa hari setelah musibah yang menimpa Sarah, kondisinya semakin memburuk. Sepertinya bukan karena penyakit, tapi karena tekanan yang begitu kuat pada batinya. Dokter di Rumah Sakit tempat Sarah di rawat sedikit kebingungan terhadap kondisinya. Karena itu, di datangkan secara khusus Dokter Spesialis Psikologi.
Bukan karena keahlian sang Ibu Dokter Psikologi dengan cepat mengenali Sarah dan membaur dengannya. Tapi karena sarah adalah dosen yang telah membantu anak bu dokter dalam menyelesaikan persiapan sidangnya. Yaitu Ridho Fisabilillah. Entah kenapa semangat Sarah dapat di hirup kembali setelah percakapan antara dirinya dengan bu dokter. Ridho pernah bercerita dengan ibunya, bahwa ia begitu mengagumi sosok Sarah. Ujungnya, kata cinta terucap dibibir Ridho saat mata tertuju padanya.
Setelah beberapa hari dilalui. Kesehatan Sarah pun perlahan pulih kembali. Sarah dapat melakukan aktivitas seperti biasanya.
Lamunan Sarah di teras rumah begitu membuyar ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam menghampiri rumahnya. Ternyata sang Bu Dokter kemarin, Bu Ani. Bukan karena kebetulan lewat, tapi karena niat yang tersirat untuk berkunjung ke rumah gadis dewasa cantik yang sangat memikat. To the point, Bu Ani menyampaikan bahwa anaknya, Ridho ingin meminangnya menjadi bidadari hatinya. Kali ini, hati yang begitu kering nan gersang terasa tiba-tiba begitu sejuk seraya butiran salju itu menghampiri dirinya. Ridho menerima Sarah apa adanya. Tak memandang perbedaan 10 tahun usia mereka. Lelaki yang merupakan salah satu mahasiswa bimbingannya dan juga kriterianya, bagaikan malaikat tampan yang memberinya air di saat dirinya dehidrasi.
Tak ingin mendengar kabar yang dapat menghentak hati lagi, Sarah meminta agar Ridho mau meminangnya & menggelar akad pernikahan malam ini juga. Ridho dan keluargapun menyanggupinya. Hanya pujian kepada Tuhan Yang Maha Pengasih yang dapat Sarah lontarkan. Cahaya senyuman bahagiannya begitu merona, membuat bidadari cemburu dibuatnya. Alhamdulillah...
Selalu ada hikmah di balik musibah.
Sebaik-baik rencana manusia, tapi rencana Allah lah yang tak akan habis mengukir senyum bahagia.

0 komentar:

Post a Comment