Sunday, June 1, 2014

Pengajar Harus Profesional

Pengajar Harus Profesional

          Hari minggu datang lagi nih kawan-kawan. Hari ini jadwalnya penulis untuk setor tulisan mingguan buat LPM Paradigma. Penulis bingung nih mau nulis apa. Ya.. tak dapat inspirasi kawan, soalnya lagi dikejar-kejar tugas dan Proyek Akhir. Tapi tak apalah, penulis bakal tetap nulis walaupun tak jelas apa yang mau ditulis.

          Oke.. kita angkat satu pembahasan disini. Penulis jadi teringat masa-masa SMA dulu. STM tepatnya. Karena penulis lulusan STM. Tau sendiri lah kawan anak STM itu sering dicap nakal oleh masyarakat. Penyebabnya ya mungkin karena populasinya 90% laki-laki yang notabene memang jahil dan nakal. Tapi tak semuanya nakal lho kawan, ada juga yang baik (penulis contohnya. hehe). Ya sudahlah kawan, itulah seni bersekolah, sedikit-sedikit jahil kan tak apa. Asal tak melanggar batas norma yang berlaku. Namanya juga anak muda.

          Kadang-kadang saking jahilnya, para guru pun dibuat geleng-geleng kepala bahkan emosi. Wajar lah, guru mana coba yang tidak ingin anak didiknya jadi anak yang baik. Namun ada juga guru yang merajuk alias ngambek alias bad mood kalau muridnya buat kesalahan. Misalkan membolos satu kelas (jangan dicontoh kawan), tak buat tugas dan kenakalan lainnya. Disini penulis bukannya membela kenakalan tersebut, okelah guru merajuk gara-gara muridnya tak buat tugas. Wajar-wajar saja. Tapi kalau merajuk karena persoalan lain yang tak ada hubungannya dengan murid hingga semua kekesalan ditumpahkan kepada murid, seperti menghukum, memberi tugas yang diluar kemampuan murid. Dimana letak profesionalismenya? Ini yang patut dipertanyakan karena seseorang yang berprofesi sebagai pengajar baik itu guru, dosen, atau apapun namanya hendaknya mengajar berdasarkan profesionalisme, bukan berdasarkan suasana hati yang kalau lagi mendung murid yang jadi pelampiasan.

          Sekali lagi, penulis disini tidak memihak kepada pihak manapun. Memang terkadang kenakalan murid bisa membuat guru emosi. Namun guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa hendaknya tidak mencampur adukkan suasana hati yang sedang mendung ke dalam proses belajar mengajar. Karena ini turut mempengaruhi kemampuan dan kemauan murid dalam memahami pelajaran yang diberikan. Ya.. ujung-ujungnya jika sudah terselenggara proses pendidikan yang menjunjung tinggi profesionalisme, bukan tidak mungkin akan menghasilkan generasi-generasi penerus bangsa di masa mendatang yang berkualitas.

Salam Pers Mahasiswa!


Penulis : Arif Safri

0 komentar:

Post a Comment