Monday, June 2, 2014

Kekecewaan Pendonor Darah



Saya sebagai pendonor darah kecewa dengan layanan panitia yang tidak berfungsi yang sebagaimana semestinya, sungguh sangat di sesalkan dengan layanan yang tidak nyaman, saya tidak tau dimana terletak kesalahan ini, apakah di systemnya, apa di panitianya.

Saya akan memberikan contoh kecilnya, panitia tidak memiliki minyak kayu putih, balsem, atau sejenis minyak penghangat tubuh, ketika ada pendonor darah pusing, mual, dan badannya mendingin, tidak satu pun dari panitia yang melakukan tindakkan, pendonor minta minyak kayu putih, tidak ada satu pun panitia yang menyediakan minyak kayu putih, jangankan untuk mencarinya, mereka hanya mengetawaai pendonor, dibilang ngantuk, disuruh balek kerumah, sungguh etika yang tidak pantas untuk saya sebutkan, namun itu kenyatan yang terjadi dilapangan, ketika donor darah sedang berlangsung, banyak hal yang terjadi, karena kita memiliki golongan darah yang berbeda, kulit berbeda, bentuk berbeda, janis kelamin yang berbeda, jadi kita tidak bisa menyamankan semua kontra fisik, tidak semua orang meliki kekuatan fisik, dan tidak semua orang memiliki darah yang kuat, salah satu pendonor kemaren mengalami pusing, sehabis mendonorkan darahnya, pendonor terasa mual dan mendingin, ketika hal itu terjadi, tak satu pun panitia yang merasakan kepanikan, melainkan ejekan, dan ketawaan.

Bagai mana mungkin bisa untuk kita melakukan kegiatan yang sangat berbahaya tersebut, jika tanpa ada persiapan. Kalau hanya untuk sekedar rame-rame aja, saya rasa anak masih kecil juga bisa untuk melakukan perkerjaan tersebut.

Seharusnya meraka lebih memperhatikan untuk kesehatan seseorang yang hendak mendonorkan darahnya, karena apa pun yang terjadi seharusnya tanggung jawab dari mereka, dan sebelum mereka menyetujui untuk melakuka kegiatan donor darah ini, alangkah baiknya ditanya kan bagaimana persiapan dokter tersebut, karena banyak hal yang akan terjadi diluar pikiran kita, kalau dokternya tidak memiliki alat yang cukup untuk menangani pendonor darah, saya harap jangan sekali-sekali menerimanya, kalau tidak ada pihak yang akan bertanggung jawab dengan hal tersebut, dan hal itu mohon untuk di perhatikan kembali.

Memang benar, donor darah ini tidak ada unsur paksaan, saya melakukannya dari hati, dan saya ikhlas untuk menyumbangkan darah saya, namun pelayanan yang diberikan dari penitia memberikan sedikit ke kecewaan bagi saya, bagi saya, mereka belum siap untuk melakukan  kegiatan tersebut.

Segala sesuatu dalam kegiatan, seharusnya panitia bisa memperhatikannya terlebih dahulu, jangan asal melakukan kegiatan tanpa persiapan. Sebenarnya kegiatan ini sangat bagus sekali, dimana kegiatan ini memberi manfaan bagi orang lain, dan bagi pendonor darah, sudah mejadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain, karena sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain  (para ilmuan).

Tapi hal kecil yang memberikan saya Tanda Tanya, kenapa kegiatan ini tidak di persiapkan dari jauh hari, untungnya hal ini hanya mahasiswa dan staf kampus yang melakukan pendonoran darah, seandai kata jika ada orang lain yang ingin mendonorkan darahnya,  seperti halnya masyarakat atau mahasiswa dari kampus lain yang ingin mengikuti kegiatan tersebut. Alangkah malunya kita, sebagai tuan rumah tidak memiliki layanan terhadap tamu yang datang, untungnya hal itu tidak terjadi.

Segala sesuatu yang sudah terjadi tidak dapat untuk di putar kembali, namun jangan di buang begitu saja tentang apa yang sudah terjadi pada kita semua, kita belajar dari pengalaman.

Secara pribadi saya sangat berharap hal seperti ini tidak terulang kembali, disamping itu saya sangat berterima kasih kepada rekan satu kelas saya, dimana beliau sangat memperdulikan pendonor, hal ini seharusnya menjadi contoh bagi panitia yang lainnya. Trima kasih.

Kiriman dari Mahasiswa...

10 comments:

  1. ini penulis coba menuliskan namanya... etika dalam menulis artikel dan jurnalistik juga ada, dan editor coba untuk lebih memperhatikan etika tersebut apa bisa di pertanggungjawabkan atau tidak... tulisan ini hanya melihat dari satu sisi, harusnya penulis lebih memahami sisi panitia dan PMI sebagai lembaga yg bekerja sama, terlihat dalam tulisan ini hanya keluh kesan dari satu pihak yang notabene hanya satu orang. kegiatan yg bagus ini sebenarnya bukan hanya baik untuk orang lain akan tetapi juga baik buat pendonor jika bisa dilakukan secara rutin. pendonor harusnya sebelum mendonor harus mengetahui ketahanan tubuh dan fisiknya, jika hal aneh terjadi tidak bisa menyalahkan panitia karena ini murni tanpa paksaan... saya jadi teringat seseorang yaitu pacar dari adik saya sendiri, saat itu ada seorang ibu dari teman saya yg membutuhkan donor. dikarenakan jiwa kemanusiaan yg muncul meskipun tak mengenal siapa penerima donornya dia mau mendonorkan darahnya ubtuk seorang ibu yang baru saja menjalani operasi, namun hal buruk terjadi, pendonor tersebut bukan hanya pusing atau lemah akan tetapi dia sampai pingsan dirumah dakit tempat dia mendonor. dan apakah dia menyalahkan rumah sakit? tentu tidak karena hal itu di lakukan atas dasar kesadaran dan kemanusiaan. ia menyadari itu terjadi karena ketahanan tubuhnya yg saat itu kurang siap, namun ia dapat menyingkarkan pikiran buruk yg ia hadapi. bukan sebatas panitia, ini udah sebuah lembaga yg melakukan yaitu rumah sakit, tapi apa pendonor harus menyesal dengan pelayanan rumah sakit? miris memang jika harus membaca pernyataan penulis yg hanya melihat satu sisi tanpa memperhatikan sisi lain. jika apa yg sudah dilakukannya malah menimbulkan hal negatif bagi dirinya sendiri alangkah baiknya lebih baik itu jangan pernah dilakukan lagi, karena apa yg terlihat bahwa pendonor telah kehilangan hal ikhlas yg harusnya sudah di tanamkan sejak akan melakukannya. untuk pendonor coba lah ikhlas, banyak hal yg bisa terjadi tanpa pernah di ketahui dan jangan menyalahkan orang lain, coba memahami diri sendiri dulu, jangan sampai hal mulia yg di lakukan panitia dan hal mulia yg anda lakukan akan menjadi sia sia hanya karena ketidak ikhlasan anda dikarenakan ada sedikit hal yang kecil yang menimpa anda...

    Thanks

    Mantan Mahasiswa Politeknik

    ReplyDelete
  2. Hanya share aja nih min, bukan maksud menggurui :).. Semoga berkenan ajaa yaa :)

    Ktk waktu saya masih freelance, selalu diajarkan bahwa sebuah berita itu harus ada bbrp sudut pandang. Nah unsur dr berita itu juga harus 2 objek. Kalau dlm masalah ini harus dr Menwa dan si pelapor.

    Kalau misalnya artikel ini harus dimuat layaknya curhat, alangkah lebih baik tunggu balasan dr pihak terkait baru di publish :).. Kan sudah ada bbrp contohnya di koran ternama :)

    Kalau misalnya dr 1 sisi seperti ini berarti memihak, dlm dunia jurnalistik kita harus netral :)..

    -salam :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi menurut saya, tulisan di atas itukan opini, opini itu pendapat,,, dan bukan berita... kalau gitu tidak masalah donk..
      ..
      tapi saya tidak tau juga sih bagaimana sebenarnya dunia jurnaslik itu, mungkin yang lebih ahlinya bisa menjawab...
      ,,,
      tapi dari pandangan saya, sebagai pembaca dan orang awam, itu tidak masalah, karena itu pendapat....

      terimakasih

      Delete
  3. maff kepada saudara @iPaY AnaKaLia
    saya telah membaca apa yang disamping kan dari penulis, disini penulis tidak menyalah kan semua nya kepada panitia, akan tetapi panitia yang sebagai pelaksana kegiatan harus memperhatikan hal-hal yang diluar dugaan, karna mereka yang bertanggung jawab dalam acara tersebut, dan menurut pandangan saya, disini penulis hanya mengharap kan kedepan nya hal seperti ini tidak terjadi lagi, kita jugak harus memperhatikan kondisi yang terjadi dengan pendonor, maka dari itu dibentuk sebuah panitia, jangan terlalu mengabaikan hal yang kecil, karna hal yang kecil itu dapat membawa kita dalam kehancuran.
    dan diatas sana penulis jugak mengatakan ke iklasan nya untuk mendorkan darah nya, saya mulai paham dengan apa yang disampaikan oleh sipenulis, sipenulis berharap hal seperti ini tidak terjadi untuk hal yang lain nya,
    saya mengutip kekecewaan penulis bukan hanya dipersipan panitia saja, akan tetapi dari cara pelakuan penitia, yang senonong mengetawain pendonor,
    trimakasih..!

    ReplyDelete
  4. Gak perlu meminta maaf, karena gak ada yang salah disini, kita sama² belajar, semua kembalikan ke diri dan hati, ketika kita ikhlas maka tidak akan terbersit kekecewaan, kalaupun ada seharusnya itu bisa kita reda agar nilai ikhlas yang kita lakukan tidak berkurang.

    Ada baiknya untuk memberikan masukan penulis langsung memaparkan apa-apa saja yang perlu dibenahi untuk kedepannya tanpa harus mengatakan kekecewaan.

    Menurut saya itu akan terkesan dan terdengar lebih mulia.

    Untuk segelintir hal kecil seperti ada yang mengetawakan coba lebih legowo, karena tidak ada manusia yang sempurna dan pastinya sadar atau tidak sadar manusia pasti akan membuat kesalahan.

    NB: untuk admin dan editor, juga temen temen penulis lainnya, ada masukan dari saya sekaligus menjawab pernyataan sodara TV Rusak News, mungkin juga tidak sempurna karena saya juga masih belajar, bahwa untuk kolom opini biasakan untuk mencantumkan nama memberikan opini lebih bagus lagi kalo di jelaskan dia adalah mahasiswa jurusan apa semester berapa dan aktif di organisasi atau UKM apa saja. itu aja tambahan dari saya mudah-mudahan bisa diterima.

    Thanks

    ReplyDelete
  5. semoga kedepan nya penulis bisa menjadi lebih baik, dan memperthatikan setiap kata-kata nya, dan kita sama-sama berharap kedepan nya bisa untuk di perbaiki, disini hanya salah dalam penyampaian dalam bahasa,

    ReplyDelete
  6. kalau untuk mencantumkan nama itu tergantung dari penulisnya, mau dimasukin atau tidak.

    ReplyDelete