Thursday, May 22, 2014

Tinta Dari Surga

Tinta Dari Surga

Mentari pagi mulai menampakkan diri setelah terlelap dalam rayuan sang rembulan. Terdengar nyanyian burung-burung kecil yang berbaris dibatang pohon daun kapas. Ayam dan bebek pun tak mau kalah untuk membuat ramai suasana pagi. Semua makhluk terlihat mensyukuri nikmat sang Ilahi dengan kesibukan tersendiri.

Ini lah hari pertama ku memulai pemburuan ku dalam mencari ilmu di jejang sekolah menengah atas. Ku langkahkan kaki setelah selasai berbenah diri. Sementara itu hembusan angin semilir merasuk di sela-sela tulang rusuk, yang begitu menyejukan. Ku pandangi, burung-burung yang beterbangan sesuka hati yang di selingi nyanyian yang sulit untuk ku mengerti. Di sana, masih ada embun yang enggan melepas dekapan dari dedaunan. Dari jauh ku meliaht sebuah kendaraan, sang seperti nya akan menghampiri rumahku.

Ternyata orang tersebut adalah imam. Dengan motor maticnya, ia menghampiri rumahku. Sejak SMP ia selalu menjemputku jika dia sudah di perbolehkan membawa motor.
"Dah siap Han?" tanya Imam ketika berhenti dihadapanku.
"Dah mam, peralatan tempur mu sudah bawa semua kan?"
"Dah dong. Dah komplit semua" jawab Imam.
"Biasanya kan, kamu kan selalu lupa bawa perabotan" candaku.
"Enak aja, loe kira gua masih kayak dulu lagi. Gua sekarang udah di Senior High School. Jadi gua udah lebih baik dari yang kemaren." tambahnya
"Hmm... gaya gayamu. Kamu berubah atau salah makan sarapan Mam? Hehehe.." tambahku.
"Huuu... dah lah jangan banyak cinacang. Cepat naik, biar kita jadi siswa yang datang paling awal" pungkas nya.
"Siap bos."
Kami pun pergi kesekoalah yang jenjangnya lebih tinggi dari kemaren. Yang jaraknya ± 2 km dari rumahku.
 ***
Tiba disekolah baru, dengan situasi dan kondisi yang berbeda begitu banyak yang kurasa. Dari mulai senang hingga nerveous. Kutelusuri sekolah dan kucari kelas yang bertuliskan X.I di bagian atas pintu. Sedangkan Imam harus mencari kelas yang berbeda dengan ku, yaitu X.III. Sambil mencari, ku juga menikmati hembusan angin yang membuat dedaunan pohon rindang didepanku ikut bergoyang. Sejauh mataku memandang, belum kudapati seorang pun siswa atau guru, kecuali seseorang pemuda yang berpakaian biasa dengan mengenakan peci diatas kepalanya. Sepertinya beliau adalah penjaga sekolah. Namun kaki tetap ku ayunkan untuk mencari kelasku. Subhanallah.. Ku pandangi, begitu hijau sekolah baru ku ini. Setiap kelas selalu disisipi taman mini walaupun hanya beberapa pot tanaman yang mengitari. Akhirnya setelah ku berjalan cukup jauh, ku temui kelas baru ku. Ku dapati pintu kelas telah tebuka. Ternyata ada seorang gadis berjilbab hitam duduk di depan bagian kanan pojok sedang duduk membaca buku. Seperti nya sebuah novel. Ku ucapkan salam seraya memulai langkah kecil memasuki kelas dan mencoba menghampirinya.
"Wa'alaikum salam" jawab nya yang sedikit terkejut melihat kedatangan ku.
"Maaf ini kelas X.I kan?" tanyaku.
"Ya. Benar. Meyda" memperkenlkan diri seraya menangkupkan tangan didada.
"Farhan Al-Farizi" jawabku dengan menangkupkan tangan juga.
Aku pun tak mau berdiri terlalu lama didepan gadis tersebut, akhirnya aku pun meminta izin untuk duduk di bagian depan pojok kiri. Dia pun membalas dengan senyuman.
***
Beberapa menit kemudian, satu persatu generasi bangsa mulai memasuki sekolah. Begitu juga di kelasku. Saking asiknya membaca komik, tak ku sadari kelasku hampir penuh dengan teman-teman baruku. Bel pun berbunyi yang menandai kami harus berkumpul di lapangan tengah sekolah.  Kamipun segera bergegas menuju lapangan sekolah untuk melaksanakan apel pagi. Di sela-sela berbaris ku cuba menyempatkan diri untuk menggaet teman lebih banyak lagi. Yang terdengar hanya sambutan kepala sekolah. Hari ini adalah hari pengenlan para siswa baru dengan lingkungan dan penduduk sekolah atau nama keren nya Masa Orientasi Siswa (MOS). MOS pun berlangsung selama 3 hari, dan Alhamdulillah tak memiliki kendala yang begitu berarti.
***
Di hari ke-4 ku disekolah, aku lebih akrab dengan sekolah. Sudah tidak ada kecanggungan lagi yang menghadang. Yang ada hanya niat lulus dengan perubahan diri yang  bagus yang kini terbentang. Di sini, aku juga masih mau menjadi yang terbaik. Yang ingin menikmati buah manis yang nanti akan ku petik.
Kini proses pembelajaran yang sesungguhnya akan dimulai. Semua siswa telah siap menikmati hidangan pelajaran dengan duduk saling berpasangan. Namun bukan berarti harus wanita & pria. Yang kupandangi mereka lebih memilih untuk duduk dengan sesama jenis. Begitu juga dengan aku. Karena untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Pada pasangan tempat duduk ku, aku tidak melihat wajah asing lagi. Hanya ada Mulyadi yang merupakan teman terdekat ku sejak MOS. Untuk kelas baruku, berdasarkan suara terbanyak akulah yang di amanahkan oleh mereka untuk menjadi imam di kelas ini. Proses belajarpun telah dimulai. Menurutku, aku tak terlalu sulit untuk beradaptasi dengan pelajaran-pelajaran disekolah ini. Tekad ku semakin bulat dan kuat untuk menjadi yang terhebat.
 ***
Ditemani sang rembulan yang selalu dikawal oleh para serdadu bintang, kutermenung melepaskan kegundahan hati. Didalam setiap hembusan nafas, selalu kupanjatkan doa. Doa kesembuhan untuk ibu yang kurindukan. Ibu yang berjuang melawan para parasit yang sedang mengganggu. Membuat tanda tanya selalu. Mengapa penyakit yang mengenaskan seperti itu bisa melekat di ibuku? Yang membuat jarak antara kami berdua.
Tiba-tiba terdengar seseorang yang mengucapkan salam di pintu depan rumahku. Aku pun bergegas untuk membuka pintu. Ternyata guru fisika ku yang ingin menanyakan letak rumah salah satu temanku. Pak Zainal namanya.
Di sela-sela perbincangan tentang tujuan pak Zulham mencari rumah Siti, beliaupun melontarkan beberapa pertanyaan.
"Kok sepi Han? Dah pada tidur ya?" tanyanya
"tidaklah pak, adik saya sedang main dirumah tetangga" jawabku.
"kalau orangtuamu?"
"Ayah dan adik perempuan Farhan sedang merawat ibu dirumah sakit Cipto pak."
"jauh betul. Emangnya ibumu sakit apa han?"
"kanker rahim pak" terdunduk tampak sedih.
"inalillahi waina ilaihirijiun. Yang sabar ya nak, Allah pasti memberikan kesembuhan buat ibumu. Yang penting kamu harus selalu menyemangati ibumu. Demi kesehatan beliau juga."
"Aamiin. Insya Allah pak."
"terus kamu tinggal sama siapa saja disini?" tanyanya lagi
"dengan adik saya pak kelas 1 SD. Adik yang 1 yang usianya 5 tahun ikut dengan orangtua pak."
Pak Zainalpun melontarkan senyuman." Yang terpenting kamu harus membuat orang-orang yang kamu sayang bangga kepadamu. Bapak yakin kamu bisa."
"Insya Allah pak. Terima kasih pak."
Pak Zainal pun pamit untuk mengunjungi rumah siti, yang belum jelas ku ketahui niat & tujuan beliau.

***
Dua bulan sudah, ku berjuang di sekolah. Menuggu 1 bulan lagi untuk mendapatkan hasil MID semester. Minggu begitu terasa pilu. Air mata mencoba untuk menyapa. Perasaan resah dan gelisah yang tak ku temui asal muara. Tiba-tiba terdengar suara handphone berdering. Ternyata ayahku yang memanggilku. Ku jawab panggilan beliau, yang awalnya ju anggap ini akan menjadi obat kegalauanku. Namun kuterdiam sejenak. Setelah ayah memberikan sebuah berita. Siapa sangka, rencana manusia takkan mampu membaca goresan tinta-Nya. Inilah ketetapan yang telah di pastikan. Begitu besar rasa sayangku kepada ibuku, takkan mampu  mengalahkan rasa sayang Tuhan kepada hamba-Nya. Ya... ibuku telah dijemput terlebih dahulu oleh Allah menuju istana-Nya. Kabar yang  begitu maha dasyat, membuat keresahan ku meningkat ribuan kali lipat. Air mata seakan tak mau ketinggalan melihat kesedihan. Genggaman hp, kulepaskan begitu saja. Perasaan seperti dihujani meteor berintikan matahari. Aku seperti orang yang tak sadarkan diri. Terpaku membisu meratapi diri.
***
To be continued...



0 komentar:

Post a Comment