Wednesday, May 14, 2014

Satu Jam Kemudian

Satu jam kemudian, suasana kafe tetap sepi, walaupun lalu-lalang orang mengusik ketenangan para koki yang sedang beristirahat. Makanan hangat itu sudah basi dan semuanya sudah menjadi jemu, sampai kapan ia tetap betah dengan pekerjaannya tanpa menoleh sedikit pun kearah ku? Apa  sekarang tidak ada waktu untuk berdua 
“kemana saja kamu , seminggu ini?” Tanya ku , membuka percakapan yang kaku
“kamar,”
Ketus sih, tapi cukup untuk mengobati rasa rindu hati ini.
“kamu sakit?” aku terus mencoba melontar pertanyaan yang ku anggap itu ‘perhatian’. 

Sembari mengotak atik  laptopnya, ia menggeleng sedikit, aku tahu itu jawaban yang sangat berkesan. Huh
Membosankan bukan?
Seperti berbicara pada pendeta yang tuli.

Aku masih sabar dengan situasi ini, sudah beberapa bulan terakhir bahkan, setelah satu tahun hubungan ini berlangsung, apa dia mulai merasakan bosan juga? Hahahha
Aku hanya bisa menebaknya dalam hati, bibir ku tak mampu mengungkapkan 
sebenarnya, mungkin bisa diandaikan seperti gadis dalam sangkar, apa? Gadis dalam sangkar? Kelihatannya telalu manis, atau bisa saja gadis jablay? Hahah, aku bukan tipe butuh belaian.

Aku hanya gadis yang selalu merindukannya.
Merindukannya dalam diam ku,
Dalam sakit ku
Dalam air mata ku

Bahh..! semuanya hanya kiasan kata, saat tahu hatinya telah ada yang lain, saat ku periksa hape nya secara diam-diam, dia ada yang lain, dia ada gadis lain, aku tambah kaku, tak mampu berkata, seperti meneguk beling halus.
Aku diam seribu bahasa, hingga satu jam kemudian ia menoleh ku,
“kamu kenapa?”
Aku tetap diam, ia hanya bergumam pelan, lalu beralih pada laptopnya itu, aku seperti setrika panas!
Satu jam kemudian, aku makin mendidih, itu membuatnya gerah dan menoleh kearah ku
“kamu jangan berfikir buruk, aku sayang kamu”
Ia lalu diam,  aku juga diam.

Satu jam kemudian, aku memeluknya dan luruh dengan perasaan sayang yang berlebihan terhadap pria cuek yang mengisi hati ku.


Penulis : Sri Azizah

0 komentar:

Post a Comment