Saturday, May 24, 2014

Kebersihan Itu Mencerminkan Diri Kita

Kebersihan Itu Mencerminkan Diri Kita

Rumah yang indah itu biasanya dihuni oleh orang-orang yang berhati ramah, jika kita menempati suatu rumah, maka itu akan menjadi kaca ke pribadian kita, karena rumah itu adalah istana untuk kita beristirahat, berkumpul dengan keluarga yang tercinta, saling menguntaikan kasih sayang, berbagi kehangatan pelukan kasih sayang.

Jika kepribadian kita jelek, berkemungkinan besar rumah kita kotor, berbeda halnya dengan jelek, hanya  kotor, kotor dalam artian tidak perna dibersihkan, kita terlalu nyaman dengan kondisi yang kotor.

Jika kepribadian kita bagus, berkemungkinan besar juga rumah kita bersih, rumah itu merupakan pakaian dari kita, jiwa yang bersih tidaklah nyaman untuk memekai pakaian yang kotor.

Sebuah tanda Tanya bagi saya, apakah kita MAHASISWA Politekni Negeri Batam (poltek) termasuk kategori kotor ? Saya persilahkan untuk anda menjawab, akan tetapi lihat terlebih dahulu disekeling kita, baru sampaikan, jika apa yang saya sampaikan ini salah.

Waktu seminar GKN (Gerakan Kewirausahaan Nasional) seorang nara sumber berkata, yang masih saya kutip perkataannya, iya lah “Poltek memiliki citra yang  bagus, akan tetapi kamar mandinya sangat memprihatikan” kamar mandi yang beliau maksud adalah, WC Audit A.

Seharusnya itu menjadi perhatian bagi kita yang memilki wewenang dalam hal tersebut, karena itu dapat merusak nama besar kita, bukan hanya menjaga nama kita saja, akan tetapi menjaga iman kita, karena kebersihan itu adalah sebagian dari Iman, karena Poltek memiliki semuanya, akan tetapi untuk kamar mandi  kita belum bisa memperbaikinya.

Semua terjadi mungkin karena adanya beberapa faktor, diantara nya faktor usia dan selain sebagainya, sampai kapan kita menyaksikan hal ini ? Sampai kita mendapatkan teguran, apakah sampai kita mendapatkan bantuan untuk memperbaikinya.

Saya tidak bisa berkata manja terhadap orang  yang mempelihara kotoran, bukan saya berkata seperti malaikat yang tidak bernoda, bukan saya berkata seperti makluk tidak berdosa, hanya sangat memprihatinkan terhadap lingkungan saya yang ada, dan tidak dapat untuk saya pungkiri jugak,  Poltek ini jugak merupakan rumah bagi saya, jika hal ini ditimpahkan kepada mahasiswa, yang harus memperbaikinya, itu sedikit membantu, karena kita harus sama-sama bertanggung jawab dalam satu rumah, karena kita satu keluaga, maka itu kita harus  menjaga apa yang ada di rumah kita tersebut.

Poltek memilki mahasiswa yang banyak, jika dipungut biaya membayaran WC itu 4 ribu (4000) per orang, pasti lah itu lebih untuk melakukan membangunan WC tersebut, jika benar-benar pihak dari Poltek tidak lagi memiliki dana untuk memperbaikinya.

Saya secara pribadi malu dengan apa yang saya lihat, kotor, bauk, warnanya menguning, sangat jauh jika dikatakan indah dan bersih,  karena kita bukan hanya belajar untuk lebih baik, akan tetapi kita belajar untuk menjaga yang lebih baik.

Sayangnya  saya tidak bisa melihatkan bukti yang tersirat, dengan apa yang saya sampaikan, akan tatapi ini benar-benar fakta  yang ada, saya pernah pergi jalan ke masjid dekat arah jalan Nagoya Hill, disana saya meilihat tempat kencing laki-laki itu diberi penghalang air untuk keluar, jadi setiap orang yang akan kencing dengan posisi berdiri, air nya pun tidak akan sampai luar, karna sudah terhalang oleh sejenis kaca tipis, dan kita bisa mengasih pengawi murah, seperti bola yang lebih kita kenal kapur barus, itu jauh lebih nyaman dari pada kondisi sekarang.

Melakukan suatu perubahan itu tidaklah semudah membalik telapak tangan, membutuhkan waktu yang cukup lama, dalam proses yang cukup panjang, itu lebih baik dari pada kita tidak ada melakukan  perubahan sama sekali, lebih baik berjalan meski  tidak bisa untuk berlari, dari pada bisa berlari tapi hanya ikut menyaksikan apa yang sedang terjadi.

Apa lagi Audit A itu digunakan untuk semua kegiatan yang bersifat skala besar, jangan sampai orang yang keluar habis seminar, bukan membagi ilmu yang mereka dapat, akan tetapi menceritakan WC kita yang kotor, satu dari mulut ke mulut menjadi  seribu, sangat menyayangkan jika hal itu benar-benar terjadi, seharusnya kita lebih memperhatikan hal yang kecil terlebih dahulu, karena hal sekecil itu bisa mebawakan kita sebuah kehancuran.

Kebersihan itu tidak akan tercipta jika kita sendiri termasuk orang yang kotor, bagaimana bisa kita membersihkan lingkungan kita,  sedangkan kita kotor, maka itu mulailah untuk membiasakan untuk hidup lebih bersih, apa perlu kita memberikan kepada mereka larangan-larangan tentang kebersihan tersebut ? Bagi mereka melangagar tentang kebersiahn, karena kebersihan itu sangatlah indah.

Hal  ini benar-benar harus di perhatikan lebih baik, biar kita nyaman dan tenang, lingkungan bersih, hatipun terbawa untuk bersih, hati yang  bersih melahirkan perkataan yang bersih.



By : Sep Justins

0 komentar:

Post a Comment