Monday, May 19, 2014

Indonesia Siapa ?


Indonesia Siapa ?

Pagi itu, tepat tanggal 9 April 2014. Ya pesta demokrasi dan sudah pasti hari libur.  Semua penjuru daerah mengadakan PEMILU. Namun aku masih disini, dikamar kesayangan ku. Berbaring menikmati hari libur yang memang singkat. Dan kembali tidur menghindari nyoblos. Hal yang amat aku benci.

Dari luar kamar mama sudah berteriak – teriak membangunkan ku.
" Ahh, biarkan aku istirahat. Capek ! ", ujarku dalam hati.
Kulirik handphone butut milik ku, masih jam 10 pagi. Masih banyak waktu yang bisa ku habiskan dengan bersantai. Akupun mengacuhkan teriakkan mama dan menarik lagi selimut tebal itu.
Tak lama kemudian, mama masuk ke kamar. Sepertinya beliau akan marah besar padaku. Tapi ternyata......
" Dek, bangun. Nyoblos dulu sana. Entar baru tidur lagi."
" Capek ma, adek gak mau nyoblos."
" Lah kenapa ? Sebagai bangsa yang baik, kita harus ngikutin pesta demokrasi ini. Inikan buat nentuin wakil kita? Entar kamu kecewa kalo mereka gak berjalan sesuai kemauan. Entar kamu pingin pindah kewarganegaraan", ledek mama kepada ku,
" Iya. Nanti adek nyoblos. Sekarang mama keluar aja dulu. "
Mama meningalkan aku dengan berkata " Mama mau pergi, jaga rumah ya. Jangan lupa nyoblosnya."
" Yess, mama pergi. Aku bisa tidur dengan tenang. Ngapain nyoblos bikin capek. Toh gini – gini aja pemerintahannya. Gak bener. Dimana – mana korupsi.  Janji – janji gak pernah ditepatin. Indonesia gak akan pernah maju !", bantin ku berujar.
Aku kembali tidur...
Pukul 12.00 WIB, aku terbangun dan sejenak aku mendengar keramaian diluar rumah. Di depan rumah ku memang dijadikan pos untuk nyoblos. Satu – satunya pos yang ada di perumahan ku ini. Aku pun keluar dan bertanya dengan warga setempat yang sedang menikmati pemandangan seru itu.
" Maaf pak, ini kenapa ya ribut – ribut begini ? " tanya ku pada bapak yang sudah paruh baya.
" Ini nak, ibu itu mau nyoblos. Tapi dia gak dapat kartunya dan kesini cuma bawa KTP. Tapi malah gak diijinin sama panitianya. Bukannya boleh ya nak datang bawa KTP gitu ? "
" Mungkin pak, saya juga kurang tau, "
" Ahh, ngapain sih make acara nyoblos segala. Sok banget tuh ibu ! Palingan karena ada kerabat atau temennya yang nyaleg," ujar hati ku sinis.

Tak lama ibu tersebut datang menghampiri ku dan si bapak dengan wajah yang putus asa. Kasihan sih melihatnya, tapi karena aku keburu negative thinking padanya, rasa kasihan itu berubah menjadi rasa muak yang teramat.

Si ibu mengajak bapak paruh baya itu bercerita. Dengan tampang jutek, aku masih berdiri diantara mereka. Bukan karena aku menikmati cerita siang itu, tapi lebih dikarenakan menjaga sikap dan sopan santun pemilik rumah yang didatangi dua tamu menyebalkan.

Lamunan dan tampang jutekku pun terhenti karena ibu tersebut bertanya kepada ku.
" Kamu udah nyoblos, nak?"
" Belum bu ? "
" Kenapa belum ? " tanya bapak paruh baya itu pula
" Ya, malas pak. Untuk apa? Saya juga gak kenal sama calegnya. Entar saya salah pilih pula. Bukannya makin bagus daerah kira, malah makin rumit. "
" Hahaha. Orang mana mbak ? " ujar sang bapak dengan tawa membahana.
" Melayu. Emangnya kenapa pak ? "
" Bukan, maksud saya negara mana ? Asli Indonesia kah atau orang luar ?"
" Hahaha. Lucu sekali si bapak. Emang ada tampang orang luar ya? Saya asli Indonesia lah pak" , kali ini aku yang mengeluarkan tawa.
" Kuliah atau masih SMA ?" tanya si ibu pula
" Kuliah bu. "
" Aneh. Anak Indonesia. Penerus Indonesia. Tapi gak ada kepeduliannya terhadap bangsa. Bahkan untuk menentukan wakilnya saja tidak mau. Bagaimana kalau kalian yang akan meneruskan bangsa ini? Mungkin makin porak poranda. Kamu fikir Indonesia ini milik siapa? Ini Indonesia siapa ? " tegas sang ibu kepada ku.

Aku hanya bisa tertunduk mendengarkan kata – kata itu. Tapi bukan berarti aku mengakui atau membenarkan kata – kata tersebut. Aku terlalu sombong dan terlalu angkuh untuk mengakui kekalahan ku. Dalam hati yang penuh emosi aku berfikir bahwa yang salah itu mereka. Para pemimpin yang tak benar ! Pemimpin yang hanya memikirkan perut dan kekayaan mereka saja. Para pemimpin bodoh ! Dan aku tak ingin menjadi manusia paling bodoh karena memilih pemimpin yang bodoh !

" Lihatlah nak, lihat Indonesia ini. Ini Indonesia ku. Ini Indonesia mu. Ini Indonesia kita. Nak, kamulah penerus bangsa ini. Kamulah pemimpin yang akan berdiri nantinya. Kamu akan mewakili aspirasi – aspirasi kami. Kalau kamu gak peka, gimana nantinya Indonesia kita ", sang bapak menasehati dengan penuh kasih sayang.

Perbincangan itu terus bergulir. Mereka para orang tua yang sangat peduli terhadap bangsanya, mereka sangat peduli pada masa depan negaranya memberikan aku suntikan – suntikan tajam tentang bangsa ku. Nasehat – nasehat itu mulai mengikis kebencian ku terhadap Indonesia, tepatnya pemimpin negeri ini. Aku terlahir disini, memakai tanah ini, meminum air Indonesia ini dan sekarang aku tak peduli dengan negara ini, orang macam apa aku ini ? Sungguh, pemimpin ini memang telah banyak bersalah tapi tak seharusnya rakyatnya, penerusnya meneruskan kesalahan itu. Dan sebenarnya kitalah yang salah, aku yang salah. Harusnya aku yang mencari tau tentang calon wakil daerah ku, bukan hanya menunggu kabar burung yang belum tentu kebenarannya. Aku salah, aku tak peka.

" Sebagai mahasiswa, harusnya kalianlah yang mengontrol kebijakan pemerintahan. Jika pemimpin salah, kalian mengingatkannya. Kalian harus peduli dengan bangsa ini ", ucapan sang bapak yang mengakhiri pembicaraan kami.

Aku bergegas menuju pos pemilu itu. Nyoblos. Itu yang ada dibenakku. Satu suara saja bisa menetukan semuanya. Aku bersama ibu tersebut menghampiri panitia pemilu. Dan melalui perbincangan yang panjang dan sedikit ancaman akan dilaporkan ke Panwaslu, panitia tersebut mengijikan ibu tersebut untuk memilih.

Ahh Tuhan, aku baru tersadar ternyata panitia ini semuanya adalah kerabat salah satu caleg. Disini juga tidak ada pengawasnya. Pemilu macam apa ini ? Pantas tidak berjalan dengan sehat. Sudahlah, lain kali ini tak akan terjadi.


Tak lama akupun pulang dengan tinta menempel di jari kelingking ku. Haa, hari ini aku sudah memberikan sedikit waktuku untuk bangsa ini. Semoga akan ada perubahan dari pemerintahan dan pemimpin yang telah kami percayai. Semoga janji itu bisa ditepati oleh wakil daerah ini. Ya, peka. Aku akan peka. Apalagi saat pemilihan Presiden nanti. Aku harus memilih. Aku mahasiswa sehat yang peka. Aku mahasiswa yang peduli. Dan aku juga akan menerusi perjuangan mereka nanti. MAHASISWA HARUS PEDULI . 


By : Fajar

0 komentar:

Post a Comment