Thursday, March 13, 2014

Seharusnya Kita Berbangga


Gedung Poltek? Tentu kita sebagai mahasiswa Poltek tau. Gedungnya sendiri berarsitektur modern. Keliatan dari luarnya dengan 8 lantai yang kalau tak ada plang namanya mungkin aja dikira hotel. Dalamnya? Jangan tanya, liat aja sendiri. Sistem keamanan yang serba modern dengan CCTV di setiap penjuru ruangan. Belum lagi bapak-bapak petugas keamanan yang bikin keamanan makin terjamin. Terus ada juga sistem pencegahan terhadap kebakaran kayak di negara-negara maju yang kalau ada api langsung tuh sensornya bekerja dan byuurrrr….keluar air. Hehe.

Ada juga lift untuk memudahkan mahasiswa bergerak menuju lantai yang lebih tinggi. Lalu ada Wi-Fi biar mahasiswa gampang mencari bahan kuliah di internet , gampang upload tugas di learning.polibatam.ac.id, gampang  juga buat update status terbaru di jejaring sosial (Ohoho, jangan keseringan ya kawan. Fasilitas kampus tuh. Hehe). Belum lagi tiap ruangan belajar yang full AC. Pokoknya kita sebagai mahasiswa Poltek patut berterimakasih dengan segala fasilitas dan kemudahan yang diberikan pihak kampus.

Tapi diantara semua unsur modern yang melekat pada gedung Poltek, Ada unsur kedaerahan yang masih tetap dipertahankan. Unsur kedaerahan itu tak lain tak bukan yaitu ‘kemelayuan’. Masih bingung apa yang saya maksud kawan? Itu lho, di puncak tertingginya Poltek ada atap rumah adat melayu. Coba bayangkan Poltek tanpa atap tersebut. Akan terlalu kental unsur kebaratannya. Juga identitas kita sebagai orang Indonesia yang kaya akan budaya akan tertutupi.

Memang sih keliatannya sepele, bahkan mungkin agak terlupakan simbol kemelayuan itu. Tapi setidaknya itulah pembeda kita orang Indonesia dengan warga negara lain terutama negara barat. Kita selalu menemukan unsur kedaerahan hampir di semua aspek kehidupan. Contohnya di Kota Batam tercinta ini. Sangat mudah menemukannya terlebih yang identik dengan melayu. Bangunan sekolah dan pemerintahan dengan corak melayu, baju kurung khas melayu dan masih banyak lagi unsur kemelayuan yang seharusnya kita banggakan.

Nah.. generasi muda terutama kawan-kawan para mahasiswa yang diharapkan menjadi agent of change alias agen perubahan sudah seharusnya bagi kita menjaga dan melestarikan budaya kita sebagai orang Indonesia yang banyak macamnya. Jangan sudah dicaplok negara lain baru sibuk teriak-teriak. Jangan juga terobsesi dengan budaya bangsa lain yang bertentangan dengan adat ketimuran kita. Tapi itu semua terpulang pada kawan-kawan sendiri apakah mau apatis atau mau peduli.
Salam Pers Mahasiswa!

Penulis : Arif Safri


1 comment: