Saturday, January 11, 2014

Cerpen Pohon Sayang oleh Yudadi

Pohonku Sayang
tv rusak event
Sumber gambar: http://sosialberkarya.wordpress.com/tag/mading-sosial-berkarya/

Puah…..panasnya. keringatku tak henti-hentinya bercucuran. Bajuku basah oleh keringat. Keringat membanjiri tubuhku seolah aku baru saja mengguyur badanku ini dengan air sewaktu mandi. Gila panas banget. Kuseka peluh yang mengucur dari kepalaku. Angkotnya belum lewat lagi. Aku berdiri di bawah pohon yang cukup rindang. Wuih segarnya dengan sedikit sapuan angin yang menerpa. Hem..segar. Kenapa di bawah pohon pada siang hari terasa sejuk dan segar ya? Sambil menanti angkot yang menuju rumahku, aku membayangkan tiba di rumah dengan segelas es teh buatan mama yang super segar. Apalagi kalau ditambah semangkok puding dingin rasa coklat durian. Cegluk, aku menelan air ludah membayangkan itu semua. Khayalanku mendadak buyar ketika angkot yang kutunggu lewat.
Kenapa bumi ini semakin panas ya. Sepanjang perjalanan pulang, tak henti-hentinya aku mengeluh kepanasan. Di dalam angkutan kota yang kunaiki, aku merasakan betapa menderitanya aku. Coba tadi aku minta dijemput pasti aku tidak akan berdesak-desakan dalam angkot yang sempit. Tapi nggak apa-apa, aku harus mandiri. Kasihan mama harus berpanas-panas sambil memboncengkan adikku yang masih kecil kalau tadi aku minta dijemput. Aku harus mandiri, begitu pikirku. Di dalam angkot, aku mencium campuran aroma yang aduhai. Ada bau keringat yang super harumnya. Ada bau parfum. Ada keringat yang super tengik.. dia nggak pakai deodoran kali ya. Duh, macam-macam deh baunya. Belum lagi kalau ada pedagang dari pasar yang membawa keranjang. Semakin sumpek rasanya. Dengan rasa tidak bersalah, sang sopir masih saja berteriak..kosong-kosong.. Ayo mbak baju kotak-kotak, geser dikit. Masih muat. Itu yang pakai baju hijau, celana merah, topi kuning, ayo geser… begitu teriak sang sopir. Aduh, di mana rasa kemanusiaanmu Bang..keluhku dalam hati. Mawar..Mawar… sang sopir berteriak keras. Alhamdulilah, akhirnya sampai juga. Aku menghela napas lega. Untung rumahku dekat. Segera aku menghentikan angkot dan membayar ongkos.
Sesampai di rumah, segera aku berganti dengan celana pendek dan kaos. Aku basuh kaki dan tanganku. Wuih segarnya. Segera aku menuju meja makan dan mengambil es teh yang sudah disediakan mama. Nikmatnya…aku menenggaknya sampai tak bersisa. Mama hanya tersenyum melihat ekspresiku. O iya, aku jadi ingat, ada yang mau kutanyakan pada mama.
“Ma, kenapa kalau kita di bawah pohon pada siang hari terasa sejuk dan segar ya?” tanyaku. Mamaku pasti tahu jawabannya karena Mamaku serba bisa.
“O, begini, Nak. Pohon itu melakukan fotosintesis. Nah, fotosintesis itu menghasilkan oksigen dan karbohidrat. Nah, rasa segar yang kamu rasakan itu adalah ketika kamu menghirup oksigen yang dihasilkan sewaktu fotosintesis.” Peristiwa fotosintesis membutuhkan air, karbon dioksida, zat hijau daun dan sinar matahari. Air dan karbon dioksida itu akan diubah menjadi oksigen dan karbohidrat. Tuh kan mamaku memang hebat. Beliau bisa menjelaskan semua.
“Tapi mengapa kata orang-orang, kita jangan berada di bawah pohon di malam hari, Ma? Kenapa ya Ma.” tanyaku lagi.
“O, itu. Begini, Nak. Semua makhluk hidup kan pasti bernapas. Hewan, manusia, dan tumbuhan bernapas. Kalau hewan mempunyai bagian tubuh tertentu untuk bernapas. Ada yang bernapas dengan paru-paru, misalnya kucing, anjing, kambing, dan sapi. Ada yang bernapas dengan insang, seperti ikan. Ada yang dengan paru-paru buku, misalnya pada serangga. Nah, pohon juga bernapas. Pohon menghirup udara melalui lentisel dan stomata. Ketika malam hari, pohon itu tidak berfotosintesis karena tidak ada sinar matahari, tapi pohon itu melakukan respirasi atau pernapasan. Pernapasan membutuhkan oksigen, tapi menghasilkan karbon dioksida. Dalam proses pernapasan, makhluk hidup menghirup oksigen dan menghasilkan karbon dioksida. Pohon itu menghirup oksigen dan menghasilkan karbon dioksida. Jadi, istilahnya kamu berebut oksigen dengan pohon ketika kamu berada di bawah pohon pada malam hari. Itulah sebabnya jangan berada di bawah pohon ketika malam hari karena pohon sedang tidak berfotosintesis.”
“Jadi, kalau siang hari pohon tidak bernapas, Ma?“ tanyaku lagi. “O, bukan begitu, masa kalau siang tidak bernapas? Entar mati dong,” cecarku.
“Begini. Bernapas dilakukan setiap waktu. Di siang hari, pohon melakukan respirasi dan juga fotosintesis. Karbon dioksida yang dikeluarkan dari proses pernapasan diserap lagi oleh pohon untuk berfotosintesis yang menghasilkan oksigen dan karbon dioksida. Jelas?” tanya mama.
“Ehm…jadi pohon itu menyerap karbon dioksida ya Ma?” tanyaku.
“Iya, kan dibutuhkan dalam proses fotosintesis tadi. Makanya, perbanyaklah menanam pohon agar bumi ini tidak panas. Kamu bisa mulai menanamnya di kebun belakang itu. Kebetulan, tadi mama membeli bibit pohon mangga dan rambutan dari penjual bibit buah keliling tadi. Kamu tinggal menanamnya di kebun belakang. Mintalah tolong Papa untuk membuat lubangnya. Besok kalau berbuah, kan kamu juga yang menikmatinya.,” kata Mama.
“Siap Bos. Akan saya laksanakan,” kataku. Dalam benakku aku membayangkan, pohon mangga dan rambutanku sudah berbuah dengan lebatnya. Nanti, aku akan mengajak teman-temanku untuk memanennya. Ketika sedang asyik mengkhayal, tiba-tiba Mama menepuk pundakku. Yachh..hilang deh bayanganku tentang ranumnya mangga dan rambutan.
          Mama kembali menjelaskan. “Kamu harus mencintai bumi ini, Andre. Merawat lingkungan di sekitar kita. Keberadaan pepohonan tidak hanya menambah kesejukan. Saat ini sedang terjadi pemanasan global atau global warming sehingga bumi terasa makin panas,” kata Mama.  “Begitu ceritanya. Karena kerakusan manusia, banyak pohon ditebang. Hutan-hutan ditebang secara liar tanpa ijin atau illegal logging istilahnya. Banyak tanaman hijau ditebang untuk perluasan lahan. Kamu tahu fungsi lain dari pohon itu untuk apa? Pohon mempunyai akar yang akan mencengkeram tanah. Ketika ada hujan, tanah yang terkena air tidak akan terbawa air. Tapi, ketika pohon ditebangi, tidak ada akar yang mencengkeram tanah. Itulah sebabnya terjadi banjir dan tanah longsor di daerah yang pohonnya ditebangi,“ kata Mama.
          Dalam hati aku mengiyakan perkataan Mama. Aku bangga punya mama yang bisa menjadi ‘kamusku’ setiap saat. Maklum, mama sangat suka membaca. “Terima kasih, Mama,” kataku. Aku memeluk mama dan mama mencium keningku. Dalam hati aku berjanji untuk menjaga bumi ini. Merawat bumi dengan menanam tanaman agar bumi ini kembali sejuk.
          “Sama-sama anakku,” jawab mama lembut.
***
Hari yang kunanti tiba. Hari ini hari Minggu. Dan itu berarti Papa libur. Aku sudah bersiap dengan peralatan berkebunku. Cangkul, bibit pohon, pupuk kandang, selang air, dan topi besar untuk melindungiku sudah kusiapkan. Dengan cepat, Papa membuat lubang. Segera kumasukkan pupuk kandang yang telah kucampur dengan tanah. Papa membantuku memasukkan bibit pohon ke dalam lubang dan kemudian menutupnya dengan tanah. Aku menyalakan air dan menyiram pohon itu. Dalam hati aku berdoa, cepat besar yang pohonku. Tumbuh dan berbuahlah dengan segera agar aku bisa menikmatinya. Dan aku berjanji, akan menanam pohon lebih banyak lagi agar lingkunganku segar dan asri.
Sambil berdendang, aku membantu papa membuat lubang lagi. Tiba-tiba papa berkata. “Andre, tahu nggak kamu mengenai Hari Sejuta Pohon untuk Dunia yang diperingati tiap 10 Januari?
“O ya? Aku belum tahu, Pa. Yang aku tahu Hari Bumi pada tanggal 22 April dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni,” kataku.
“Nah, pohon yang kita tanam ini bisa untuk memperingati Hari Sejuta Pohon untuk Dunia. Setuju nggak?” kata Papa.
“Oke, Pa. Aku setuju sekali. Dan bagaimana tiap tanggal 10 Januari, 22 April, dan 5 Juni kita menanam pohon?”  kataku dengan mata berbinar.
“Setuju. Bagus sekali idemu, Nak,” kata Papa. “Papa mendukungmu.”
Dari dapur terdengar suara tepuk tangan Mama. Plok-plok. “Mama bangga sama kamu, Andre.” Aku tersenyum lebar. Aku ingin lingkunganku banyak pepohonan hingga terasa nyaman dan asri. Bagaimana denganmu, Kawan?





Biodata penulis
Nama                               :    Yudadi BM Tri Nugraheny
Hobi                                :    Membaca, menulis, mencoba resep masakan
Email                               :    iud_bm@yahoo.com
Alamat                            :    Durungan RT 49 RW 22, Waes, Kulon Progo, Yogyakarta, 55611
No. HP                            :    08157986657
Harapan                          :  Semoga penebangan hutan secara liar dapat dikurangi agar lingkungan ini tetap lestari. Dan, mulailah dari diri kita sendiri untuk menanam pohon di lingkungan sekitar kita.

0 komentar:

Post a Comment