Saturday, October 19, 2013

Budaya ‘Menyayangi Sampah’ Mahasiswa Politeknik Negeri Batam


Budaya ‘Menyayangi Sampah’  Mahasiswa Politeknik Negeri Batam 

Menganalisa lebih lanjut tentang pengertian budaya, merupakan kebiasaan yang unik dan biasa dilakukan sekelompok orang. Budaya merupakan salah satu cara hidup yang berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi, dapat dilihat dari tindakan ini bukan hanya berlangsung pada satu periode saja, atau tingkatan saja, melainkan terus menerus dan berkala (Wikipedia Indonesia). Setiap budaya tentunya tidak selalu bernilai positif, terkadang ada budaya yang bisa dikatakan mengandung unsur negatif.

Salah satu budaya yang unik adalah budaya ‘menyayangi sampah’ yang menjadi trend di Politeknik Negeri Batam. Mungkin kedengaran lucu atau aneh, malah terdengar miris atau terlalu manis untuk menyayangi sampah. Tetapi itulah kenyataannya.

Jika melihat dari kenyataan yang ada, kebanyakan Mahasiswa/i tidak mau membuang sampah pada tempatnya. Mereka justru membuang disembarang tempat. Apakah tindakan ini termasuk menyayangi sampah? Mereka bahkan mungkin Kita sepertinya tidak peduli melihat sampah yang berserakan, atau malah disangka suatu ‘keindahan’ yang mewarnai mata Kita. Bahkan kebanyakan Kita enggan memungut sampah-sampah yang berserakan tepat di depan Kita seperti tidak ada rasa memiliki kampus. Hal ini terkesan ‘berserah diri’ kepada Cleaning Service kampus, atau seperti berfikir ‘ah, itu bukan tanggungjawab saya’ dan masih banyak pikiran yang tak sepatutnya. Terlebih saat jam istirahat, ketika kantin serasa sesak oleh pelanggan, banyak dari kita justru berhamburan keluar, membawa piring-piring makanan dan mengambil posisi masing-masing. Masih bisa dimaklumi karena fasilitas kampus untuk tempat nongkrong dikantin masih belum memadai. Tetapi ketika selesai makan, perilaku yang tidak mencerminkan mahasiswa itu timbul, di berbagai sudut, emperan , dan beberapa tempat terpojok tak luput dari sisa makanan, piring-piring, tempat minum dan lain-lain.

Sungguh disayangkan bukan? Apa jadinya jikalau pihak luar yang sedang mengunjungi kampus ini, tetapi keadaan nyata akan terlihat jelas dimata mereka. Bisa jadi kampus ini menjadi kampus terkotor yang pernah ada. Amit-amit deh.

Pernah suatu ketika saya melihat Priyono Eko Sanyoto selaku Direktur kampus ini sedang berjalan menuju perpustakaan kampus. Lalu Beliau melihat keadaan kampus yang sebenarnya, “Mahasiswa kok kotor!”, ucap Beliau.

Miris, mendengar apa yang sebenarnya menjadi permasalahan kampus ini. Bahkan salah satu mahasiswa baru tahun 2012 yang tidak mau disebutkan namanya memberikan komentar yang menurut saya pahit, “ kampus ini serasa bak sampah ketika jam istirahat dan esok paginya, hehehhe, terkadang saya melihat justru kakak-kakak panpelnya yang buang sampah sembarangan, padahal dulu kami diajarin buang sampah di tong sampah, aneh ya?”.

Kini tugas kita semua, Mahasiswa/i PoliBatam. Marilah  menghilangkan budaya negatif ini. Atas  dasar ini, kita harus memulainya dengan membangun dan melatih kesadaran diri kita sendiri mulai saat ini juga, untuk menjadikan kampus ini lebih nyata bersihnya. (SA)

0 komentar:

Post a Comment