Friday, June 28, 2013

Simfoni hati

Untuk orang yang selalu menyemangati langkah ku,
Boss cinta,
Karimun, 24 juni 2011
Bintang,
Gadis mungil dengan tas samping suramnya melangkah penuh tekad melewati gerbang-gerbang kotor  dipenghujung jalanan sempit perumahan kumuh. Gadis kecil dengan senyum riang dan khasnya membawa segelas mimpi diantara deretan tong-tong berisi plastik bekas, seberkas cahaya bening, memancar menghiasi wajahnya yang jernih. Ia terus melangkah, matanya tajam menatap kekosongan malam yang mencengkam. Tiba-tiba ia berhenti merogoh saku celananya, mengeluarkan sesuatu yang unik, jam tangan tua yang sudah habis batrainya. Dengan secuil senyum riang, ia menatap jarum jam yang tepat menunjukan pukul 12.00 WIB itu. “sudah pukul duabelas tepat,” ujarnya yakin, suaranya seakan setetes embun dipagi hari. Menetes beirama.
            Jam tangan tua itu, pemberian dari seorang kakek yang telah lama terbaring kaku ditanah. Kakek itu bernama luth,sebelum kakek luth meninggal, bintang tinggal bersamanya bintang tidak pernah menanyakan asal usulnya pada kakek luth, hanya saja sebelum seminggu kematian kakek luth lelaki tua itu banyak bercerita sambil menangis, ia hanya memberikan jam tangan  tua yang diketahui bintang didapati diujung kakinya sewaktu kakek luth menemukannya, jarumnya tetap sama bergelayut pada angka duabelas tepat.
“percayalah, angka duabelas ini adalah kehidupan mu,suatu saat kamu akan menemukan hidup sejati mu lewat jam tangan tua ini,” ungkap kakek luth sebelum menghembuskan nafas terakhir dibalik kerdus-kardus lusuh dan berlubang.
            Semenjak itu, bintang menjalani hidupnya sendiri, belasan tahun bersama kakek luth mengajarkan nya untuk hidup lebih keras lagi. Ilmu seni yang ia petik dari kakek luth membuat rasa indah yang ia dapatka dalam menjalani hidup. Teringat pesan kakek luth dulu, saat ia belajar membuat tulisan beberapa tahun lalu,
“sudah selesai kau menulis?” tanya kakek luthsembari tersenyum cerah, bintang menunduk.
“boleh ku baca?” tanya nya lagi,
“tidak kek, tulisan ku jelek, tidak ada kandungan seni.” Mata bintang mulai berkaca-kaca, sebenarnya ia tidak ingin mengucapkan kata-kata itu untuk hasil karya tulisnya sekalipun. Kakek luth tersenyum, diraihnya kertas usang yang ditulis oleh huruf-huruf tak beraturan itu.
“ banyak orang bilang beberapa karya seninya jelek, tak layak atau hancur. Bagi ku karya seni itu belum indah dan masih perlu pemanis yang namanya inspirasi, jadi cobalah untuk tetap optimis…”
Senyum kecil bintang mulai mengembang, semanagtnya terbakar, kakek luth menepuk pundaknya lalu pergi. Sementara bintang sibuk mencari kertas usang, mencoba menulis lagi, sebisanya!
. . .
            Mentari mulai membias cahaya keemasannya melalui siluet-siluet awan pagi itu. Bintang terhenyak mendapati pukulan penjaga toko yang ingin membuka usahanya.
“waa ! lo pagi-pagi uda wat wa mala haa?” terdengar suara tuan Haa Xeen Yon menatap bintang yang sibuk merapikan kardus tidurnya.
“maaf baba Haa xeen…”
“walan! Lo bilang-bilang nama wa tad a abis laa!”
“yaa,ya, maaf baba Hen xeen yon..” bintang menunduk sendu.
“ya,ya,ya. Lo bole pelgi laa… awas lo tido lagi si empelan took waa ha? Ada paham lo?”
“ya, baba Hen xeen yon, wa minta maaf laa…”
“haa, sikalang lo pelgi cepat-cepat dali sini la, wa uda bosan liat lo…”
Bintang berlari  menyeret kardusnya, ia tidak menghiraukan cemooh baba Haa xeen yon yang bagai harimau tua sakit gigi.
            Hari mulai menyengat, terik mentari menghitamkan kulit-kulit rawan. Bintang menyimpul rambutnya yang kepirangan diterpa panasnya raja siang, dijenguknya lagi jam tangan tua tersebut lalu ia tersenyum penuh semangat menatap sekelilingnya, bagai memburu sesuatu ia melayangjan tatapan setajam mungkin,
“aku sudah tujuhbelas tahun, aku layak mempertahankan hidupku!” ucapnya penuh kobaran.
“permisi, tuan kecil, nyonya dan tuan besar sudah menunggu dibawah” ujar bibi tina setelah Dawan membuka pintu kamarnya,
“tolong jangan memanggil ku tuan kecil,” ucap dawan dingin. Karakter bekunya membuat lawan bicara kaku menyahut. Bibi tina hanya mengangguk lalu pergi.
“dawan, ayah rasa kamu harus memikirkan rencana kuliahmu.”
Ayah menatap dawan penuh pertimbangan.

“sebentar lagi

0 komentar:

Post a Comment