SHARING BERSAMA KRU LPM KETIK POLIMEDIA JAKARTA

Sharing bersama salah satu KRU LPM Ketika Polimedia

BARELANG ROBOTIC TEAM RAIH JUARA I KRSBI 2016

Tim robot Politeknik Negeri Batam, Barelang Robotic Team berhasil meraih juara 1 kategori KRSBI (Kontes Robot Sepak Bola Indonesia) dalam KRI (Kontes Robot Indonesia) 2016

LPM PARADIGMA TEMU DAN SHARING BARENG KRU BARU

LPM Paradigma menggelar temu dan sharing bersama kru baru di lapangan Harmoni kampus Polibatam

MEMPERINGATI HARI BUKU, BEM dan ATAP MERAH GELAR DISKUSI TERBUKA

EM Polibatam bersama Atap Merah menggelar diskusi terbuka bertemakan “MUAK (Membaca Untuk Angkat Kejayaan) Dengan Buku”, Rabu (18/5) di lobi kampus.

Friday, November 14, 2008

Memperkenalkan KEPRI melalui Fotografi


  • Pelatihan Fotografi Dasar Focusejahtera

Wafit, Batam
redaksi_pn@yahoo.com

Sabtu (25/10), tepatnya di Hotel PIH (Pusat Informasi Haji) kemarin diadakan seminar tentang Pelatihan Fotografi Dasar. Kegiatan yang diprakarsai oleh Focusejahtera ini disambut antusias oleh para peminat fotografi dan penulisan di Kota Batam.

Pelatihan Fotografi yang terbuka untuk umum ini diikuti oleh para mahasiswa serta pelajar SMU di batam seperti SMUN 3, SMU Hang Tuah, UIB, UNIBA, UNRIKA, UMRAH dan Politeknik.

Tujuan diadakannya Pelatihan Fotografi Dasar ini menurut hasil wawancara kami dengan Subagio adalah agar para mahasiswa dan siswa SMU mendapatkan ilmu tentang fotografi. “Selain itu dengan adanya Pelatihan Fotografi Dasar ini diharapkan dapat menawarkan potensi KEPRI melalui karya fotografi, jadi kita dapat memperkenalkan foto-foto keindahan alam KEPRI di kancah dunia melalui hasil jepretan kamera kita”, papar Subagio.

Dalam pelatihan yang dibagi dalam dua sesi ini, hadir dua orang pemateri yang cukup mumpuni di bidangya yaitu Bang Ferry, wartawan senior Sijori dan Bang Tundra, fotografer Sijori.

Sesi pertama diisi dengan materi teknik penulisan yang disampaikan oleh Bang Ferry. “Jurnalistik atau penulisan memiliki keterkaitan atau kekuatan yang tidak bisa dipisahkan karena suatu berita tanpa adanya foto akan terasa kurang sekali, begitupun sebaliknya” terangnya dalam pelatihan tersebut.

Pada kesempatan ini bang Ferry banyak memberi masukan tentang bagaimana menjadi seorang wartawan yang baik dan cara-cara membuat suatu berita yang mempunyai nilai lebih.

Selain itu antusias dari para tamu undangan yang kebanyakan dari kalangan mahasiswa, sangat bagus. Ini tampak pada serangan pertanyaan-pertanyaan yang di jatuhkan para audience pada pemateri.

Seperti yang dikatakan salah seorang pelajar SMU 3 bahwa, “kegiatan ini sangat bagus sekali, karena saya mendapatkan banyak ilmu pengetahuan tentang jurnalistik serta fotografi dari pelatihan ini”

Sekitar jam 12.00 WIB para peserta Pelatihan Fotografi Dasar diberi waktu untuk istirahat selam satu jam dan melaksanakan ibadah sholat serta makan siang. Setelah itu sekitar jam 01.00 para peserta kembali lagi kedalam ruang pelatihan.

Pada sesi selanjutnya Bang tundra yang sudah banyak mendapat penghargaan di bidang fotografi mejelaskan secara panjang lebar kepada para peserta tentang sejarah fotografi , tidak hanya itu beliau juga mempraktekkan cara-cara pengambilan gambar yang baik dengan istilah “komposisi bayangan” atau bagaimana memfokuskan gambar agar kelihatan lebih bagus dan indah. Selain itu beliau juga membuka beberapa pertanyaan pada para peserta pelatihan fotografi dasar bagi yang kurang paham.

Pelatihan Fotografi Dasar ini berakhir sekitar jam 04.00 WIB. Namun sebelum berakhirnya acara ini subagio sebagai ketua pelaksana Pelatihan Fotografi Dasar ini mengajak para peserta undangan agar dapat bergabung di BPC (Badan Photografi Club) khusus untuk pelajar dan mahasiswa, namun akan dibicarakan lagi setelah pertemuan berikutnya yaitu 3 minggu setelah pertemuan ini. Sembari para peserta Pelatihan Fotografi pulang, para peserta dibagikan Certifikat serta CD yamg berisikan materi fotografi yang amat berguna untuk dibaca.

Aktivis, Why Not ??

Judul buku : Agar Ngampus Tak Sekedar Status
Penulis : Robi’ah Al-Adawiyah dan Hatta Syamsuddin
Editor : Nurul M.F
Tahun terbit : Rabiul Awal 1429 H/Maret 2008
Penerbit : Indiva Publishing, Surakarta
Jumlah halaman : 216 hlm

Diresensi Oleh : Desy Oktafia

Agar ngampus tak sekedar status adalah sebuah buku yang mengupas tentang dunia mahasiswa dan persoalan yang sering terjadi di dunia perkuliahan. Dalam buku ini, juga terdapat beberapa tips dan trik kuliah ke luar negeri.

Rabi’ah al-Adawiyah dan suaminya, Hatta Syamsuddin memapar hal-hal yang sering menjadi persolan dan kadang membuat dilema mahasiswa baru. Tidak hanya itu, penulis buku best seller “Kenapa Harus Pacaran” ini juga memuat masa transisi dari anak sekolahan menjadi seorang mahasiswa yang penuh dengan kenangan yang kadang membuat seorang siswa sulit beradaptasi dengan lingkungan kampus. Rabi’ah al-Adawiyah yang juga mantan seorang aktivis kampus, berbagi pengalaman mengenai dunia organisasi yang kadang tidak terlalu diminati oleh sebagian mahasiswa.

Dalam buku ini, pengarang berusaha memprovokasi dan mengubah pandangan mahasiswa terhadap suatu organisasi. Dan memotivasi bagi mahasiswa yang telah mendeklarasikankan diri sebagai aktivis untuk terus tetap berjuang dan melakukan perubahan agar bukan hanya sekedar “mahasiswa” tetapi “mahasiswa yang tercerahkan”.

Persiapan menjadi mahasiswa, pemilihan kos-kos yang baik agar tidak salah pilih, sampai Ospek yang kadang menjadi ketakutan tersendiri bagi mahasiswa baru pun tak luput dari pengamatan Rabi’ah al-Adawiyah. Bahkan ibu dari Kuni Maura Ahna (2 tahun) dan Salma Haniyya (4 bulan ) ini memberikan pandangan bagaimana seharusnya Ospek yang efisien dan efektif bagi mahasiswa baru agar tak sekedar Ospek yang hanya meninggalkan ketakutan bagi mahasiswa baru.

Sejak SMA Rabi’ah telah aktif berorganisasi, bahkan pernah menjadi ketua PII-wati wilayah Surakarta sehingga pengalaman dalam hal organisasi dan aktivis di kampus tak lagi diragukan. Tak heran jika ia mengusai betul hal-hal yang kadang menjadi kendala bagi mahasiswa baru yang baru aktif di dunia organisasi. Kecemasan orang tua akibat sibuk menjadi aktivis, nilai IP yang menurun bahkan persoalan teman-teman di kampus di paparkan secara gamblang. Dan semua hal yang berbau aktivis serta pemilihan aktivitas sukses di jelaskan oleh wanita yang lahir pada 15 Mei 1981.

Gaya bahasa yang ringan dan mudah dimengerti memberikan nilai plus dari buku ini. Sehingga para pembaca seolah-olah tidak sedang membaca buku tetapi ngobrol langsung dengan istri Hatta Syamsuddin ini. Tidak heran karena buku ini lahir dari seorang suami yang pekerjaannya sebagai WTS (Writer, trainer and speaker) mengerti betul kondisi jiwa para pembaca yang rata-rata mahasiswa baru. Sehingga setelah membaca buku ini pembaca akan merubah pandangan tentang seorang aktivis.

Buku ini sangat cocok untuk kalangan remaja baik yang masih SMA maupun yang telah kuliah. Karena dalam buku ini pembahasan mengenai dunia perkuliahan di dipaparkan secara apik oleh penulisnya.

Desy Oktafia
Mahasiswi UMRAH S-1
jurusan Akuntansi 2008