Tuesday, October 28, 2008

Empati dan Kutukan Orang

Hidup di dunia memang tidak bisa sendirian. Diciptakan sebagai makhluk sosial membuat kita senantiasa memerlukan bantuan orang lain, bukan berarti bergantung pada orang lain tapi lebih kepada bantuan moril, motivasi dan semangat dari orang lain.

Dan tentu saja ketika hidup bersosial yang kita butuhkan adalah perasaan empati, yaitu bisa turut merasakan apa yang orang lain rasakan. Mampu menimbang perasaan orang lain dan memposisikan bagaimana perasaan kita sendiri jika di posisi orang tersebut.

Beberapa hari yang lalu saya baru mendapatkan sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya empati. Dalam sebuah seminar/pelatihan yang saya ikuti, ketika itu waktu coffe break pun tiba. Para peserta yang sedari tadi mendengarkan materi dipersilakan untuk mengambil makanan yang telah disediakan berupa; dua jenis kue, dan minuman; teh serta kopi.

Entah, karena semua belum sarapan atau memang menggemari kue yang disediakan, banyak peserta yang mengambil lebih dari porsi yang ditetapkan (porsinya 1 orang 2 kue). Dan bisa dipastikan, peserta di antrian terakhir kehabisan kue yang disediakan.

Kesempatan serta kebebasan yang diberikan kadang memang membuat kita tidak perduli dengan orang di sekitar kita. Empati yang seharusnya kita miliki hilang entah kemana. Dan tentunya ini yang paling berbahaya, karena dari sinilah kutukan orang akan menghujani kehidupan kita.

Ketidakpedulian kita akan menimbulkan kebencian orang-orang di sekitar, sumpah serapah tentunya akan mengiringi setiap kepergian kita. Bepergian dengan berbekal kutukan dan sumpah serapah sungguh berbahaya, kehidupan kita akan kehilangan hampir separuh berkahNya.

Sekarang yang harus kita sadari adalah bagaimana meningkatkan kepedulian, rasa empati kita pada sesama. Anggap orang-orang di sekitar kita adalah saudara, kemudian capailah tingkatan persaudaraan tertinggi. Itsar, mendahulukan kepentingan saudaranya melebihi kepentingan diri sendiri. Dan niscaya indahnya hidup akan kita dapatkan. Bukan sesuatu yang mudah tapi tidak mustahil juga dilakukan.

Kini, mungkin ada baiknya kita menghitung-hitung segala tindakan yang kita lakukan yang berisiko mengundang kutukan sesama.(tvx)

***

0 komentar:

Post a Comment