SHARING BERSAMA KRU LPM KETIK POLIMEDIA JAKARTA

Sharing bersama salah satu KRU LPM Ketika Polimedia

BARELANG ROBOTIC TEAM RAIH JUARA I KRSBI 2016

Tim robot Politeknik Negeri Batam, Barelang Robotic Team berhasil meraih juara 1 kategori KRSBI (Kontes Robot Sepak Bola Indonesia) dalam KRI (Kontes Robot Indonesia) 2016

LPM PARADIGMA TEMU DAN SHARING BARENG KRU BARU

LPM Paradigma menggelar temu dan sharing bersama kru baru di lapangan Harmoni kampus Polibatam

MEMPERINGATI HARI BUKU, BEM dan ATAP MERAH GELAR DISKUSI TERBUKA

EM Polibatam bersama Atap Merah menggelar diskusi terbuka bertemakan “MUAK (Membaca Untuk Angkat Kejayaan) Dengan Buku”, Rabu (18/5) di lobi kampus.

Tuesday, October 28, 2008

Empati dan Kutukan Orang

Hidup di dunia memang tidak bisa sendirian. Diciptakan sebagai makhluk sosial membuat kita senantiasa memerlukan bantuan orang lain, bukan berarti bergantung pada orang lain tapi lebih kepada bantuan moril, motivasi dan semangat dari orang lain.

Dan tentu saja ketika hidup bersosial yang kita butuhkan adalah perasaan empati, yaitu bisa turut merasakan apa yang orang lain rasakan. Mampu menimbang perasaan orang lain dan memposisikan bagaimana perasaan kita sendiri jika di posisi orang tersebut.

Beberapa hari yang lalu saya baru mendapatkan sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya empati. Dalam sebuah seminar/pelatihan yang saya ikuti, ketika itu waktu coffe break pun tiba. Para peserta yang sedari tadi mendengarkan materi dipersilakan untuk mengambil makanan yang telah disediakan berupa; dua jenis kue, dan minuman; teh serta kopi.

Entah, karena semua belum sarapan atau memang menggemari kue yang disediakan, banyak peserta yang mengambil lebih dari porsi yang ditetapkan (porsinya 1 orang 2 kue). Dan bisa dipastikan, peserta di antrian terakhir kehabisan kue yang disediakan.

Kesempatan serta kebebasan yang diberikan kadang memang membuat kita tidak perduli dengan orang di sekitar kita. Empati yang seharusnya kita miliki hilang entah kemana. Dan tentunya ini yang paling berbahaya, karena dari sinilah kutukan orang akan menghujani kehidupan kita.

Ketidakpedulian kita akan menimbulkan kebencian orang-orang di sekitar, sumpah serapah tentunya akan mengiringi setiap kepergian kita. Bepergian dengan berbekal kutukan dan sumpah serapah sungguh berbahaya, kehidupan kita akan kehilangan hampir separuh berkahNya.

Sekarang yang harus kita sadari adalah bagaimana meningkatkan kepedulian, rasa empati kita pada sesama. Anggap orang-orang di sekitar kita adalah saudara, kemudian capailah tingkatan persaudaraan tertinggi. Itsar, mendahulukan kepentingan saudaranya melebihi kepentingan diri sendiri. Dan niscaya indahnya hidup akan kita dapatkan. Bukan sesuatu yang mudah tapi tidak mustahil juga dilakukan.

Kini, mungkin ada baiknya kita menghitung-hitung segala tindakan yang kita lakukan yang berisiko mengundang kutukan sesama.(tvx)

***

GEMPA sambangi DPRD Batam

  • tuntut pengesahan RUU Pornografi secepatnya
(Batam-PN) Sejumlah masyarakat yang menggabungkan diri dalam gerakan masyarakat peduli akhlak mulia (Gempa) kemarin menutut agar pemerintah segera mengesahkan rancangan undang-udang pornografi menjadi undang-undang.

Kemarin, aksi massa yang terdiri dari mahasiswa dan masyakarakat yang peduli ini, dimulai dari jalan raya sekitar bundaran OB dengan terlebih dulu menghimpun tandatangan sebagai simbolik kata setuju di sebuah spanduk. Aksi kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sampai ke Gedung DPRD Kota Batam.

Aksi yang diikuti sekitar seratus orang ini, juga dilakoni ibu-ibu yang membawa serta anak mereka dan mahasiswa perwakilan kesatuan aksi mahasiswa muslim Indonesia (KAMMI), BEM Politeknik Batam, Ikatan Mahasiswa Muslim Politeknik Batam (IMMPB) serta ikatan da'i Indonesia (Ikadi).

Koordinator aksi Agus Purwanto mengatakan, aksi ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap semakin maraknya pergaulan bebas dan tindakan asusila lainnya. Sebab mayoritas kasus pencabulan dan pemerkosaan, bermula dari tindakan menonton atau melihat aksi dan gambar seronok.

Dalam orasinya, salah satu peserta demo Agus meneriakkan bahwa belum disahkannya RUU Pornografi sebagai bentuk kegamangan tim pansus. Padahal, katanya, RUU ini bukanlah bentuk pelarangan yang sifatnya visualitas seperti memakai pakaian minim dan terbuka kecuali di depan umum, melainkan lebih kepada perbuatan yang mencegah ke arah kejahatan seksualitas.

RUU tidak melarang suku tertentu memakai pakaian minim jika memang adalah adat setempat. ”RUU bukan mengakomodir agama tertentu, ini adalah keinginan semua agama,” teriaknya.
Dalam aksinya, pendemo membeberkan, tahun 2008 Indonesia berada di urutan ke dua tertinggi pengakses media porno, satu peringkat di bawah Rusia. Kasus pemerkosaan yang terjadi, katanya, 70 persen disebabkan dari media porno ini. ”Maka dari itu, maksiat, hancurkan.

Indonesia, selamatkan. RUU Pronografi sahkan,” pekik mereka kompak.
”Tidak ada kata tidak untuk mengesahkan RUU ini . Ini adalah solusi untuk menyelamatkan bangsa dari maksiat dan kehanduran,” tambah Agus.

Di Gedung DPRD, rombongan aksi diterima Wakil Ketua I DPRD Kota Batam Aris Hardy Halim. Kepada Aris, ketua Syariah Consulting Centre Isfiraini mengatakan, gerakan-gerakan yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi maupun kesatuanbangsa yang menolak disahkannya RUU Pronografi merupakan gerakan yang terdiri dari oknum-oknum yang tidak menginginkan kebaikan bangsa.

Dikatakan Aris, yang juga turut menandatangai spanduk persetujuan menolak pornografi dan pornoaksi, undang-udang merupakan produk yang memberi solusi maraknya tindakan pelanggaran susila. Menurutnya, Rabu (29/10) Pansus telah mengagendakan pengesahan RUU Pornografi ini. ”Semua sependapat tidak sepakat dengan pornografi dan pornoaksi,” katanya. (tvx/net)

Tuesday, October 21, 2008

Edgar : Anglung..?, What is Anglung?

  • Pagelaran D'Banana Cabaret & Culture Show

Upaya pemerintah untuk menarik wisatawan dalam program Visit Indonesia 2008 terus dilakukan. Berbagai event kebudayaan terus digelar seperti event D’banana Cabaret & Culture Show yang bertempat di gedung Sumatera Expo, Batam.

Dessy, Batam
redaksi_pn@yahoo.com

Jumat (17/10) bertempat di lantai tiga gedung Sumatera Expo pergelaran budaya Indonesia digelar. Tepat pada pukul 08.00, pergeleran yang bertajuk D’banana Cabaret & Culture Show segera dimulai.

Pertunjukan diawali dengan kemunculan 9 orang penari lelaki yang kemudian disusul dengan 9 orang penari perempuan. Para penari yang muncul mulai menyuguhkan tarian gemulai dan mereka telah disulap dengan penampilan menarik segera menari dengan lentur serta atraktif. Kini mata pun dimanjakan dengan liukan indah tubuh para penari dan tak ketinggalan sorotan lampu yang meriah. Dengan kostum yang berwarna menyala serta tata rias yang cantik para penari itu terlihat anggun hingga membuat mata enggan berkedip walau sedetik.

Setelah tarian pembukaan yang dilakukan oleh 18 penari dalam satu panggung tersebut, tarian demi tarian lain susul menyusul disuguhkan kepada para penonton. Tak kurang dari 5 jenis tarian mereka bawakan, mulai dari tari jaran (kuda lumping), tarian adat Cina, tari melayu, tari topeng dan tari Bali.

Selain tarian penonton juga dimanjakan dengan hiburan dari kelompok musik arumba yang memainkan berbagai alat musik khas Indonesia. Kali ini giliran seruling bambu, gendang, angklung dan berbagai macam alat musik lainnya terdengar sangat harmoni yang unjuk gigi.

Tidak hanya penari dan pemusik yang terlibat dalam acara tersebut. Para penonton pun diajak terlibat dalam pertunjukan itu. Salah seorang pemain musik memberikan arahan kepada para penonoton bagaimana cara menggunakan angklung yang sejak awal pertunjukan sudah ada di masing-masing kursi penonton.

Pertama pemandu tersebut memberikan arahan cara memegang Angklung yang baik, yaitu dengan meletakkan tangan kanan di bagian bawah sebelah kanan Angklung dan tangan kiri memegang Angklung di bagian tengah, kemudian untuk membunyuikannya goyangkan Angklung tersebut dari kiri ke kanan dengan tangan kanan.

Sebagian penonton yang berasal dari mancanegara tersebut merasa asing dengan alat musik tradisional Angklung. Seperti Edgar, yang berasal dari Kolombia mengaku baru pertama kali melihat apalagi memainkan alat musik Angklung. “Anglung..? What is Anglung?” kata Edgar yang bingung ketika ditanya soal Angklung. Edgar yang malam itu datang bersama lima orang temannya yang berasal dari Skotlandia dan Afrika Selatan terlihat sangat antusias menyaksikan pergelaran.

Setelah pertunjukan selesai, para penonton diijinkan untuk foto bersama dengan penarinya. Tentu saja hal itu disambut dengan antusias oleh para penonton yang dari tadi dibuat takjub oleh keindahan dan keluwesan penarinya. Untuk mengantisipasi membludaknya penonton di atas panggung, pihak panitia membagi-bagi penonton agar bisa berfoto secara bergiliran. Penonton pun antusias untuk berfoto bersama penari, terbukti dengan banyaknya sorotan kamera yang membidik ke arah panggung.

“kita merasa sangat tersanjung dengan antusiasme masyarakat” ungkap tofan salah satu penari D’banana Cabaret & Culture Show saat diwawancarai setelah pertunjukan selesai. Melihat sambutan yang luar biasa, ia merasa tak lelah mesti telah membawakan beberapa tarian.

Menjaga Budaya
Memang sudah seharusnya bangsa Indonesia memperkenalkan keindahan budaya Indonesia yang beragam kepada masyarakat luas, bahkan kepada dunia. Sudah semestinya kebudayaan yang menjadi warisan leluhur dilestarikan. Musik khas Indonesiapun tergusur oleh maraknya budaya barat yang berkembagn di Indonesia seperti Hiphop, RnB, Pop, Jazz dn lainnya. Musik khas Indonesia semakin tergusur. Semakin kurangnya kesadaran para generasi muda dalam melestarikan tarian daerah membuat keadaan semakin memprihatinkan. Tentu saja hal ini sangat disayangkan mengingat merekla adalah aset bangsa yang seharusnya mencintai budaya bangsa sendiri.

Pertunjukan pergelaran seni seperti D’Banana Cabaret & Culture Show setidaknya membuka mata masyarakat Indonesia khususnya Batam, bahwa Indonesia mempunyai kreasi seni budaya yang tak kalah indahnya. Memperkenalkan budaya Indonesia akan menghindari kebudayaan asli Indonesia diakui oleh negara lain.

Sudah menjadi kewajiban masyarakat Indonesia yang memiliki berjuta kultur budaya untuk selalu menjaganya. Karena hanya masyarakat Indonesia yang memiliki dan sudah semestinya masyarakat Indonesia pula yang menjaganya. Apabila masyarakat lalai, maka negara-negara laintelah siap memangsa kebudayaan Indonesia. ***

Sunday, October 19, 2008

Dibangun di Batam, Satu-satunya di Indonesia

  • Pembangunan Laboratorium Uji Komponen Elektronika
Politeknik Batam kembali akan menjadi sorotan perhatian. Setelah berbagai prestasi serta kontroversi menghiasi perjalanannya, kali ini Politeknik Batam akan menjadi tempat uji komponen elektronika satu-satunya di Indonesia.

Siang itu (16/10) beberapa pekerja bangunan tampak sibuk bersenda gurau sambil tetap mengerjakan tugasnya merombak bangunan serupa workshop yang terletak di sayap kiri Politeknik Batam. Bangunan yang tadinya hanya digunakan untuk kantor CS (cleaning service) ini nantinya akan disulap menjadi laboratorium uji komponen elektronika.

”Rencananya disitu nanti bakalan dibuat laboratorium uji komponen” kata dedek salah seorang mahasiswa Politeknik Batam. Laboratorium yang merupakan proyek Departemen perindustrian (DEPPERIN) dan Otorita Batam ini diharapkan nanti dapat menjadi salah satu nilai jual yang baik bagi Politeknik Batam. Karena dengan dibangunnya laboratorium uji komponen elektronika di Politeknik Batam ini membuktikan bahwa Politeknik memang perguruan tinggi yang bermutu di wilayah Kepulauan Riau.

Proyek yang merupakan tanggung jawab Ahmad Riyadi Firadaus, MT yang juga dosen Politeknik Batam ini juga membuktikan, terpilihnya Politeknik Batam merupakan bukti nyata kelengkapan alat uji komponen yang mumpuni.

”Batam akan kita jadikan pusat laboratorium uji komponen elektronika di Indonesia, karena memiliki Politeknik dengan laboratorium uji yang baik” tutur Budi Darmadi Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika (IATT) Depperin.

Laboratorium ini juga nantinya akan memiliki sertifikat MRA (Mutual Recognition Agreement) atau sertifikat pengakuan mutu sesama anggota ASEAN sehingga barang elektronik yang diuji di laboratorium ini tidak perlu lagi diuji di negara ASEAN lainnya.

Selain itu, pembangunan pusat laboratorium uji komponen di Politeknik Batam merupakan rangkaian proyek pemerintah melalui DEPPERIN yang ingin menjadikan Sumatera Utara (Sumut) sebagai sentra Industri komponen elektronika. Sehingga nantinya ketika ingin menguji komponen yang sudah diproduksi tidak perlu ke Singapura atau negara lain seperti yang terjadi selama ini.

Dipilihnya Sumut sebagai sentra industri komponen elektronika juga karena letak geografisnya yang dekat dengan Malaysia ataupun Batam yang memiliki industri elektronik yang cukup besar. "Ekspor barang elektronik dari Batam cukup besar. Demikian pula dengan Malaysia, ekspor elektronik negara itu jauh di atas Indonesia mencapai puluhan miliar dolar AS,” katanya.

Oleh karena itu, ia berharap Sumut bisa menjadi memperkuat dan menunjang pengembangan industri elektronik di dalam negeri, di samping mendapat limpahan pesanan komponen dari pertumbuhan industri elektronik di Malaysia.